Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 14:23 WIB
  • Hidung Sering Mampet dan Mimisan, Waspada Kanker Nasofaring

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Adinda Permatasari
Hidung Sering Mampet dan Mimisan, Waspada Kanker Nasofaring
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi menutup hidung dan hidung tersumbat

VIVA.co.id – Kanker kepala dan leher mungkin belum banyak dikenal masyarakat. Padahal kanker ini keganasannya masuk peringkat kesembilan di dunia.

Kanker yang berpeluang muncul di daerah kepala dan leher di antaranya kanker nasofaring, kanker laring atau pita suara, kanker rongga mulut, kanker parotis atau kelenjar liur, kanker rongga mata, dan kanker sinonasal.

Menurut Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, kanker nasofaring adalah kanker yang terbanyak dalam kanker kepala-leher. Kanker ini menempati urutan ke-10 di antara kanker lainnya.

Kanker nasofaring, kata Andhika, muncul di daerah lubang hidung atau belakang rongga hidung. Pembengkakan karena kanker ini bisa merusak struktur di sekitarnya. Karena letaknya yang tersembunyi, kanker ini sering tidak dikenali. Kanker baru diketahui ketika gejala sudah mulai muncul.

"Gejalanya muncul tergantung kemana pembengkakan itu mendorong, bisa ke telinga, hidung, saraf, hingga ke leher," ujar Andhika saat acara peringatan Hari Kanker Kepala Leher Sedunia di RSCM, Jakarta, Kamis, 10 Agustus 2017.

Keluhan yang sering terjadi, lanjut Andhika, adalah hidung sering pilek, tersumbat, dan mimisan.

"Ada bunyi denging di telinga. Beda dengan dengung yang mungkin ada sumbatan mekanik, tapi denging ini high pitch, kita curigai ada gangguan saraf," katanya.

Gejala lain yang bisa muncul adalah mata juling dan penurunan berat badan. Andhika menambahkan, gejala yang biasanya sering muncul adalah benjolan di leher. Kemudian, ada rasa sumbatan di telinga bahkan hingga kehilangan pendengaran. Dari hilang pendengaran sedikit, hingga menjadi hilang sama sekali.

Selain itu, sumbatan telinga ini juga diiringi dengan nyeri kepala hebat. "Meski begitu, penemuan gejala ini jangan hanya gunakan satu lalu kita menganggap itu kanker. Harus ada beberapa gejala yang muncul, tergantung dari massa kanker itu mendekat ke mana," kata Andhika.