Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 11 Agustus 2017 | 14:27 WIB
  • Waspada Jantung Berdebar Picu Kematian Mendadak

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Adinda Permatasari
Waspada Jantung Berdebar Picu Kematian Mendadak
Photo :
  • Pixabay/ HansMartinPaul
Gejala tersering dari aritmia adalah jantung berdebar tanpa sebab.

VIVA.co.id – Aritmia menjadi salah satu penyakit jantung yang belum banyak diketahui masyarakat. Padahal aritmia bisa menyebabkan kematian mendadak.

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K) mengatakan, gejala tersering dari aritmia adalah jantung berdebar tanpa sebab. Namun, spektrum aritmia sangat luas – mulai dari berdebar, keleyengan, pingsan, stroke, bahkan kematian mendadak.

"Ada yang gejala pertamanya berdebar, ada juga yang stroke, bahkan ada juga yang gejala pertamanya kematian mendadak," kata Yoga saat jumpa pers di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, Jumat 11 Agustus 2017.

Kejadian kematian mendadak ini yang juga sempat heboh beberapa waktu lalu, yang dialami oleh seorang dokter anestesi yang meninggal ketika tidur.

Sebenarnya, menurut Yoga, hal ini tidak perlu terjadi jika ada diagnosis dini yang lebih baik. Salah satunya adalah jangan menganggap enteng jantung yang berdebar.

Aritmia yang paling banyak ditemukan adalah fibrilasi atrium (FA). Pada FA, ungkap Yoga, jika berdebar sudah berlangsung dua hari, pada hari ketiga bisa terjadi stroke. Tidak seperti hipertensi yang butuh waktu bertahun-tahun hingga terjadi kerusakan pembuluh darah lalu terjadi stroke, hanya butuh 48 jam untuk FA bisa membuat stroke.

"Karena dalam 48 jam itu sudah bisa terbentuk gumpalan darah yang bisa lepas ke otak dan membuat stroke,” katanya.

Antisipasi Awal

Kebanyakan jantung-jantung berdebar-debar memang bukan suatu masalah. Tapi jika debar sudah terasa berbeda, seperti berdebar yang memanjang sebaiknya periksakan ke dokter.

"FA gejalanya hanya debar dan biasanya debarnya dikatakan ada waktu dia seperti drum bertalu-talu. Di lain waktu ada jeda atau hilang sebentar, ireguler," jelas Yoga.

Menurut dia, ketika kelainan irama jantung terjadi, atau ketika datang ke fasilitas kesehatan dinyatakan normal padahal keluhan nyata, ada pemeriksaan lain yang bisa dilakukan. Pertama yang disebut dengan pemeriksaan jangka panjang di mana pasien dipasangkan perekam yang ditempel di dada kemudian akan dipantau setelah 24 jam atau 3x24 jam.

Ada pula yang ditanam di bawah kulit yang bisa merekam denyut jantung selama tiga tahun dengan pemantauan berkala. Serta, masih banyak modalitas pemeriksaan lain yang bisa dilakukan untuk diagnosis aritmia. (ren)