Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 13 September 2017 | 07:19 WIB
  • Kenali Bedanya Saraf Kejepit dan Sakit Pinggang Biasa

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Adinda Permatasari
Kenali Bedanya Saraf Kejepit dan Sakit Pinggang Biasa
Photo :
  • Pexels/Unsplash
Ilustrasi wanita.

VIVA.co.id – Saraf kejepit merupakan kondisi di mana terjadi penonjolan pada bantalan tulang sehingga menekan saraf. Dalam istilah medis, ini dinamakan herniated nucleus pulposus atau HNP.

Menurut pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, saraf kejepit paling sering diderita mereka yang berusia 41-60 tahun. Dari data RS Cipto Mangunkusumo tahun 2002 yang dikumpulkan oleh perhimpunan dokter saraf, diketahui bahwa prevalensi kasus saraf kejepit adalah 18,37 persen dari pasien yang datang ke poli saraf.

"Keluhan nyeri pinggang merupakan kedua tertinggi setelah nyeri kepala yang angkanya mencapai 34,8 persen," kata Mahdian di Jakarta, Selasa, 12 September 2017.

Gejala saraf kejepit bisa dikenali dengan salah satu betis atau keduanya mengecil, atau disebut dengan gembur. Kemudian, ada rasa seperti tertusuk jarum di pinggang, bahkan bisa terasa sampai kaki. Ada kelemahan pada pinggang bawah yang membuat salah satu kaki berat sehingga susah berjalan.

Bisa juga terjadi nyeri lokal pada daerah saraf kejepit, seperti pada punggung, leher atau pinggang. Pinggang bawah pasien juga akan mengalami mati rasa atau baal. Dan ada rasa terbakar atau panas, padahal ketika diraba daerah tersebut tidak panas.

"Muncul pegal, nyeri, dan panas, kemudian dia juga tidak kuat berdiri lama, atau berjalan sepanjang 50 meter saja tidak kuat. Itu ciri-ciri saraf kejepit," ujar Mahdian.

Pada fase lanjut, saraf kejepit bisa membuat penderitanya tidak bisa menahan buang air kecil. Karena sudah menyerang sistem kemihnya sehingga sering ngompol atau bahkan tidak bisa buang air kecil.

Begitu pula dengan buang air besar, pasien tidak bisa mengontrolnya karena saraf otonomnya sudah rusak. Pasien pun mau tidak mau harus memakai popok disposable atau kateter.

Penyebab paling sering saraf kejepit, kata Mahdian, adalah faktor usia atau penuaan. Saraf kejepit merupakan penyakit degeneratif yang muncul akibat faktor usia.

"Penggunaan otot punggung untuk beban yang terlalu berat sehingga memengaruhi pinggang. Apalagi kalau jarang berolahraga, memaksakan mengangkat yang berat-berat bisa merusak pinggang," lanjut Mahdian.

Selain itu, trauma kecelakaan, baik kecelakaan kendaraan bermotor atau saat berolahraga, dan terjadi benturan langsung pada pinggang bisa sebabkan bantalan tulang rusak. Faktor lainnya adalah obesitas, di mana pinggang sebagai penopang utama setengah berat tubuh harus menahan beban yang kelewat berat.

"Makanya orang yang berlebih berat badannya yang dikorbankan adalah bantalan tulang dan lututnya, karena menopang berat badan yang berlebih. Dia punya risiko tinggi HNP," imbuh Mahdian.

Pekerjaan, posisi duduk dan duduk terlalu lama juga bisa menjadi faktor risiko saraf kejepit. Selain itu, faktor genetik juga bisa mempengaruhi, meskipun hanya kecil sekali.