Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 13 September 2017 | 17:32 WIB
  • Pemerintah Kembali Waspada Merebaknya Virus Flu Burung

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Diza Liane Sahputri
Pemerintah Kembali Waspada Merebaknya Virus Flu Burung
Photo :
  • ANTARA
itik mati karena flu burung

VIVA.co.id – Flu burung masih menjadi penyakit yang harus diwaspadai di Indonesia. Penyakit ini tentu tidak bisa disepelekan, karena bisa menyebabkan kematian.

Di tahun 2003, telah dilaporkan 199 kasus flu burung jenis H5N1 dengan kematian 167 kasus. Selain itu, meski belum ada penyebaran di Indonesia, risiko masuknya flu burung jenis baru H7N9 menimbulkan risiko yang cukup tinggi, disebabkan penyebaran dari China.

"Situasi flu burung pada manusia di Pulau Jawa secara keseluruhan sampai Bali sudah ada endemis. Yang tidak ada yaitu Sumatera, Aceh, dan Jambi," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular Langsung Kemenkes RI, dr Wiendra Waworuntu, dalam temu media Kesiapsiagaan Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Influenza, di Kemenkes RI, Jakarta, Rabu 13 September 2017.

Dituturkan Wiendra, kasus flu burung memungkinkan memberi dampak secara sosial dan ekonomi. Menurutnya, dampak cukup besar pastinya terlihat dari menurunnya aktivitas penduduk yang berdampak pada sistem jual beli.

"Masa inkubasi (penularan virus) terjadi selama satu bulan, maka di waktu tersebut, harus ada pembatasan kontak dengan orang sehingga akan sulit beraktivitas. Selain dampak sosial, secara jual beli akan menurun juga, maka dampak ekonominya terlihat," papar dia.

Di tempat yang sama, Ketua Tim Program Kedaruratan Kesehatan Perwakilan WHO Indonesia, dr Kwang Il Rim, menuturkan dampak ekonomi yang sangat terlihat dari penyebaran virus ini. Kwang menjelaskan, kondisi tersebut akan menurunkan angka turis di tempat wisata di Indonesia.

"Indonesia punya banyak tempat wisata, kalau penyebaran flu burung tidak dicegah, maka turis akan menurun, yang berdampak pada penurunan angka ekonomi," ujar Kwang. (one)