Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 10 Oktober 2017 | 17:14 WIB
  • Kasus Dwi dan Afi, Kenapa Kebohongan Publik Makin Marak

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Adinda Permatasari
Kasus Dwi dan Afi, Kenapa Kebohongan Publik Makin Marak
Photo :
  • Pixabay/DariuszSankowski
Ilustrasi main gadget.

VIVA.co.id – Belakangan nama Dwi Hartanto ramai menjadi perbincangan. Hal tersebut tidak lepas dari sensasi mahasiswa doktoral di Belanda ini ketika mengungkapkan sejumlah prestasi luar biasa yang ternyata hanya bohong belaka.

Tidak hanya Dwi. Tak lama sebelum nama Dwi heboh, ada Afi Nihaya, seorang remaja perempuan yang memukau publik dengan tulisannya. Belakangan diketahui kalau tulisannya itu hasil plagiarisme.

Dua nama ini mungkin baru sebagian kecil dari banyaknya kasus kebohongan publik yang ada di Indonesia. Lantas, apa yang membuat mereka nekat mempertaruhkan nama baik demi mendapatkan pengakuan yang bukan dari jerih payah mereka?

Sosiolog dari Universitas Nasional, Sigit Rohadi, mengatakan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang menginginkan mobilitas vertikal melalui jalan pintas.

"Mereka kurang menghargai proses. Ada kondisi dalam sosiologi yang disebut dengan megalomania yaitu berbuat sedikit tapi merasa melakukan suatu yang besar," ujar Sigit saat berbincang dengan VIVA.co.id.

Sigit melanjutkan, ini adalah penyakit yang biasa dialami orang yang secara sosial tertekan, tapi hanya memiliki sedikit prestasi.

Kebohongan publik seperti yang dilakukan Dwi atau Afi, merupakan hal yang sudah lama terjadi. Menurut Sigit, kebohongan ini dilakukan oleh orang-orang yang tertekan sejak kecil.

Ketika ada peluang, mereka sudah naik satu tangga tapi merasa sudah berada di puncak. Kebohongan ini menjadi lebih besar lagi dengan peran serta masyarakat yang kurang teliti dalam memeriksa akurasi berita.

"Publik dengan level pendidikan yang rendah ikut membagi sehingga ini jadi kepercayaan kolektif yang seolah-olah benar," kata Sigit.

Sigit menambahkan, ada satu kelemahan media sosial yang dijadikan media untuk menyebar berita 'bohong' seperti ini. Yaitu, adanya minizing authority di mana masyarakat dari segala level dalam sekejap merasa setara secara sosiologi padahal hanya berhadapan dengan gadget.

"Orang-orang bebas mengeluarkan. Bahkan yang ngawur sekalipun malah dikagumi," kata Sigit.