Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 12 Oktober 2017 | 12:32 WIB
  • Kapan Penderita Demam Berdarah Harus Dirawat?

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Adinda Permatasari
Kapan Penderita Demam Berdarah Harus Dirawat?
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi pelayanan medis.

VIVA.co.id – Demam berdarah menjadi penyakit yang paling diwaspadai ketika musim pancaroba datang. Di musim ini pula umumnya jumlah pasien demam berdarah meningkat. Bahkan jumlahnya terus bertambah setiap tahun.

Beberapa tahun lalu, saat demam berdarah mewabah di Indonesia, rumah sakit dibuat kewalahan dengan banyaknya pasien yang silih berganti datang ke rumah sakit. Karena membludaknya jumlah pasien, ruang perawatan tak mencukupi hingga  aula serba guna dan selasar rumah sakit dimanfaatkan sebagai ruang rawat.

Pada saat itu, menurut Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI, dari Persatuan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi, Indonesia masih belum memiliki strategi dan penanganan masalah wabah demam berdarah yang baik. Padahal, saat pasien terkena demam berdarah, lanjutnya, tidak harus selalu dirawat di rumah sakit.

"Pertama harus kita pahami dahulu bedanya infeksi demam berdarah dan tidak. Demam berdarah itu biasanya ditandai dengan demam yang mendadak tinggi, misalnya anak ini kemarin sore masih asyik main bola, tapi ketika subuh demam menggigil," ujar Leo kepada VIVA.co.id.

Jadi, pada demam berdarah ada periode yang tenang, kemudian tiba-tiba demam tinggi serta menggigil, ini yang menjadi kata kunci yang pertama. Kedua, jika demam itu disertai dua atau lebih dari gejala seperti sakit kepala, nyeri otot-sendi, mual, ada bintik merah, pegal, nyeri belakang mata, boleh dicurigai sebagai demam berdarah.

Meski demikian, kecurigaan akan demam berdarah itu harus dilanjutkan dengan melihat tanda kedaruratan atau tidak pada pasien. Tanda kedaruratan, kata Leo, adalah terjadinya syok, kejang, kesadaran menurun, tidak bisa makan dan minum, atau asupan makan tidak terjaga dengan baik, serta ada kecenderungan hematrokitnya (hasil pengukuran yang menyatakan perbandingan sel darah merah terhadap volum darah) menurun.

"Kalau sudah ada kecurigaan, sikap kita adalah melihat ada kedaruratan atau tidak. Kedaruratan seperti ada syok, kejang, kesadaran menurun, tidak bisa makan dan minum atau asupan melalui mulut tidak terjaga, dan ada kecenderungan hematokritnya meningkat.

Jika ada tanda-tanda itu, maka pasien harus dirawat berapapun jumlah trombositnya. Kalau tidak ada kedaruratan, bisa dilihat dari hasil laboratorium. Jika trombosit di atas 100.000, maka pasien bisa berobat jalan.

"Dengan catatan, dikasih obat panas. Kalau pegal dan linu, kita anjurkan untuk minum yang banyak. Dari anjuran WHO, jangan minum air putih biasa, tapi minum yang banyak elektrolitnya misalnya minuman isotonik atau elektrolit yang bisa dibuat sendiri di rumah," terang Leo.