Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 13 Oktober 2017 | 17:10 WIB
  • Jangan Sembarangan Transaksi Donor ASI, Ini Bahayanya

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Diza Liane Sahputri
Jangan Sembarangan Transaksi Donor ASI, Ini Bahayanya
Photo :
  • Reuters
Seorang suster memeriksa donor ASI di sebuah bank ASI rumah sakit

VIVA.co.id – Transaksi donor ASI mulai viral terjadi di dunia maya. Meski itu berarti bahwa kesadaran akan pemberian ASI sudah tinggi, transaksi donor ASI memiliki sisi negatif yang harus diketahui penerima donor.

"Ibu-ibu saat ini sudah sangat sadar untuk memberikan ASI kepada bayinya, namun sayangnya dengan mudahnya mendapatkan tawaran donor ASI. Mereka jadi tidak mau berusaha memeras, atau menyusui sendiri," ujar Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), spesialis anak, Dr. Elizabeth Yohmi SpA, dalam diskusi “Aturan Main Donor ASI” yang diselenggarakan Forum Ngobras di Jakarta, Jumat 13 Oktober 2017.

Sebagai alternatif makanan bayi, ASI donor memang terbaik dibanding susu formula, karena paling bisa ditolerir. Tetapi, ia mengatakan, donor ASI ada kerugiannya.

"Meskipun ASI itu adalah susu, tetapi ia sebenarnya adalah produk darah yang dapat mentransfer berbagai penyakit. Kasus yang paling sering ditemui adalah penularan virus CMV (Cytomegalovirus), hepatitis B dan C, dan  HTLV (virus pemicu leukemia dan limfoma),” ucap Yohmi.

Yohmi melanjutkan, Badan Pencegahan dan Penularan Penyakit Amerika Serikat, tidak merekmondasikan ASI donor tanpa didahului skrining. Skrining, atau penapisan tidak hanya dilakukan pada ASI saja, tetapi ibu yang memproduksi ASI.

"Skrining lisan dengan wawancara, misal dia perokok, konsumsi miras, atau gonta ganti pasangan, itu kan riskan. Setelah itu, skrining dengan cek virus yang ada di tubuhnya," ucap Yohmi.

"Hasil penelitian tahun 2010, pada 1091 donor ASI ditemukan sekitar 3,3 persen hasil skrining serologi menemukan kandungan virus sifilis, hepatitis B, hepatitis C, HTLV (Tropical spastic paraparesis), dan HIV," katanya.

Jika hasil skrining ibu terbukti sehat, ia pun belum layak menjadi donor. ASI donor harus diperas dan disimpan dengan cara yang benar, bahkan di-pasturisasi.

Pedoman WHO menyatakan, sebelum dikasih ke resipien ASI harus dikultur dulu (ditanam di media untuk memantau pertumbuhan kuman). Penelitian lain dari hasil skrining pada 810 ASI, yang belum dipasteurisasi, ditemukan pertumbuhan berbagai bakteri.

"Jadi, tidak semudah itu memberikan donor ASI. Belum lagi, bicara penyimpanan dan idealnya  pengiriman harus diperlakukan seperti darah. Yaitu disimpan dalam kotak pendingin khusus dan petugas pengelolahannya menggunakan alat pelindung diri," kata Yohmi.
 
Untuk itu, rumah sakit harus menyediakan tempat penyimpanan ASI yang baik. Saat ini hanya RSCM yang memiliki bank penyimpanan ASI cukup baik. Bank ASI tidak hanya memastikan keamanan ASI, tetapi menjamin kandungan zat gizi dalam ASI tetap terjaga. (asp)