Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 15 Oktober 2017 | 03:36 WIB
  • Pentingnya Memahami Pertolongan Pertama Serangan Jantung

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Isra Berlian
Pentingnya Memahami Pertolongan Pertama Serangan Jantung
Photo :
  • Pixabay/ HansMartinPaul
Semakin banyak istri yang dimiliki pria, semakin besar risikonya terhadap penyakit jantung.

VIVA.co.id – Penyakit kardiovaskular seperti Jantung, pembuluh darah dan stroke telah merenggut 17,3 juta nyawa setiap tahunnya.

Meski masuk menjadi salah satu penyakit yang mengancam, namun Indonesia belum mampu menghadapi situasi pertolongan terhadap orang yang terkena serangan jantung di beberapa tempat-tempat umum.

"Kalau seseorang terkena serangan jantung (pingsan) di jalan mereka bingung. Kalau kecelakaan panggil polisi, tapi kalau jantung bingung harus seperti apa. Kita terlalu (fokus memahami) ciri dan gejala," ungkap dr. Antonia Anna Lukito, SpJP, saat ditemui VIVA.co.id di Jakarta.

Ia melanjutkan, jika seseorang terkena serangan jantung seseorang harus tahu bagaimana menolong orang dengan serangan jantung supaya cepat dilakukan tindakan pertolongan pertama, sehingga pasien terselamatkan.

"Kita pun harusnya bisa memberikan pengarahan mengenai keterampilan BHD yang diajarkan ke masyarakat awam. Kita insiasi program dari dokter jantung, ajak pemerintah dan pemda supaya bikin kampanye sosial soal itu. Mengajak saving life random di mana pun," ujarnya.

Ia pun mencontoh negara Singapura yang mampu memberikan pertolongan pertama bagi masyarakatnya yang terkena serangan jantung ketika berada di tempat umum.

"Singapura beruntung negaranya luasnya seperti satu kota. Jadi ketika ada orang yang terkena serangan jantung, kemudian meminta taksi itu membawa orang. Taksi itu tahu di mana dia harus membawanya," tambahnya.

Ia melanjutkan bahwa ada beberapa tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang harus dipahami. BHD merupakan serangkaian usaha awal untuk mengembalikan fungsi pernapasan atau sirkulasi pada seseorang yang mengalami henti napas dan atau henti jantung (cardiac arrest).

Pertama, bila korban tidak memberi respons dan tidak bernapas normal segera lakukan Resusitasi Jantung Paru-paru (RJP) atau yang dikenal dengan CPR sesaat setelah memanggil bantuan.

Kedua, RJP terdiri dari tindakan kompresi dada dan pemberian napas bantuan. Dan ketiga, sebaiknya dilakukan berulang 30 kali kompresi dada diselingi 2 kali napas bantuan.