Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 17:03 WIB
  • Demi Kamuflase, Orang Depresi Sering Pasang Wajah Bahagia

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Diza Liane Sahputri
Demi Kamuflase, Orang Depresi Sering Pasang Wajah Bahagia
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi pria.

VIVA – Depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang ditandai dengan perubahan pada suasana hati dan perasaan. Meski sering dikaitkan dengan sosok yang murung, wajah bahagia juga bisa terpancar pada mereka yang alami depresi.

Depresi biasanya ditandai dengan gejala inti antara lain rasa sedih, murung, hilang minat akan suatu hal, letih, serta tidak ada tenaga. Hari-hari penuh kesedihan itu biasanya berlangsung secara kontinu, paling sedikit dalam waktu dua minggu.

"Ada juga gejala lain seperti putus asa, merasa tidak berguna, malu, merasa tidak percaya diri, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang. Kadang, orang berpikir 'mending mati aja' dan dari pemikiran itu bisa berakhir dengan ide bunuh diri," ujar Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr. Nurmiati Amir SpKJ, kepada VIVA.co.id di Jakarta, Rabu 18 Oktober 2017.

Tidak jarang, orang yang depresi menunjukkan wajah yang bahagia seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Kondisi ini ditengarai untuk menjauhkan kecurigaan para sanak keluarga pada dirinya.

"Ada yang depresi tapi menunjukkan wajah happy, untuk menghilangkan kecurigaan keluarga agar perubahannya tidak diawasi dan rencana bunuh dirinya bisa dilakukan. Ada juga yang ingin agar keluarga tidak ikut tertekan dengan depresinya, sehingga menjauhkan kesan depresi saat dia ada di tengah-tengah keluarganya," kata Nurmiati.

Dokter yang bekerja di RSCM Jakarta itu juga menegaskan, adanya keinginan orang yang depresi untuk memberi kenangan terakhir pada keluarganya. Di mana, dengan nampak bahagia, membuat keluarga terkesan dan mengingat kenangan itu saat ia berhasil melakukan bunuh diri dan berakhir pada kematian.

"Bisa juga menunjukkan seolah happy agar orang yang ditinggalkan memiliki kenangan bahagia. Tapi, pasti ada tanda depresi sebelumnya yang mungkin tidak diperhatikan keluarga," kata dia.

Untuk itu, Nurmiati menegaskan agar sanak saudara dan para psikiater mau memperhatikan secara dalam saat orang yang mengeluhkan depresi, menunjukkan sikap yang baik-baik saja. Itu bisa menjadi pertanda bahwa rencana bunuh diri telah matang disiapkan dan akan segera dijalani.

"Jangan psikiater merasa tenang saat orang depresi sebelumnya bilang memiliki keinginan untuk bunuh diri, tapi nampak baik-baik saja. Itu yang patut diwaspadai, perhatikan gejala depresi dengan seksama. Biasanya mereka ingin memberi kesan bahwa kondisinya sudah oke, padahal rencana bunuh diri sudah dipersiapkan."