Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 19 Oktober 2017 | 05:28 WIB
  • Konsumsi Buah Impor Bisa Ganggu Hormon Seksual

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti
Konsumsi Buah Impor Bisa Ganggu Hormon Seksual
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi buah apel merah

VIVA – Buah-buahan impor saat ini lebih banyak dikonsumsi orang. Bentuk dan warnanya yang lebih menarik dan rasanya yang lebih manis, seringkali membuat orang lebih tergoda dan tertarik untuk mengonsumsinya daripada memilih menikmati buah lokal.

Namun tahukah Anda, bahaya kesehatan di balik buah impor. Ahli gizi, Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD yang ditemui dalam acara Jelajah Gizi 2017 bersama Nutricia menjelaskan, banyak dampak bahaya kesehatan yang mungkin terjadi jika kita lebih banyak mengonsumsi buah-buahan impor. Kata dia,bahwa mengonsumsi apel Malang akan lebih sehat jika dibandingkan mengonsumsi buah apel Washington ataupun New Zealand.

"Melihat dari proses perjalanannya hingga sampai ke Indonesia saja, apel impor butuh perjalanan yang panjang. Paling cepat sampai enam bulan. Bahkan, apel impor bisa tahan sampai dua tahun," katanya.

Ini, karena proses pengepakan apel impor hingga sampai di Indonesia menggunakan proses penyimpanan di suhu yang sangat rendah. Gasnya juga dikeluarkan terlebih dulu.

Untuk mencegah penguapan, apel impor ini juga dilapisi lilin dan untuk mencegah jamur, apel ini menggunakan fungisida dan menggunakan pestisida  androgenik.

"Ini bisa ganggu hormon seksual dan ini yang bikin LGBT semakin banyak. Bahayanya, juga bisa mengganggu pertumbuhan janin," terang Prof Ahmad lagi.

Dia meyakinkan, tidak ada buah impor yang bebas pestisida. Namun jika lebih banyak orang memilih buah lokal seperti apel Malang, apel ini bebas pestisida. Bahkan Prof Ahmad meyakinkan, apel Malang tidak disemprot dengan bahan-bahan kimia. "Untuk mencegah hama, biasanya buah lokal dibungkus pakai koran. Jarak tempuh pangannya juga pendek, jadi lebih segar," katanya.

Untuk itu, dia menganjurkan, agar masyarakat mulai dari sekarang lebih mencintai produk pangan lokal. Selain lebih sehat juga menguntungkan petani lokal. Dan kita, juga lebih mudah menelusuri, asal muasal dan proses tanam pangan lokal.