Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 23:25 WIB
  • Menguak Penyebab Penderita Kanker Serviks Masih Tinggi

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Isra Berlian
Menguak Penyebab Penderita Kanker Serviks Masih Tinggi
Photo :
  • Pixabay
Kasus kanker serviks menyebabkan kematian atas 2 orang setiap jam.

VIVA – Kanker Serviks atau kanker leher rahim menjadi pembunuh nomor satu bagi perempuan di Indonesia. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki angka tertinggi pengidap kanker serviks adalah Papua.

Dengan indikasi perhitungan setiap tahunnya 546 perempuan Papua meninggal akibat Kanker Serviks. Dr Rosaline Irene Rumaseuw mengatakan ini tak lain katanya, karena kurang paham mengenai bahaya dan pengobatan dari kanker.

"Kanker ini menjadi masalah terbesar untuk wanita. Ketika saya berhadapan langsung dengan mama-mama di sana (Papua) ketika saya mendiagnosa mereka kanker, mereka tatapannya langsung kosong. Ini menjadi masalah buat saya, karena mereka tidak akan kembali lagi ke rumah sakit," ungkapnya saat ditemui di JW Marriot Jakarta, 18 Oktober 2017.

Lebih lanjut ia menjelaskan wanita yang telah divonis menderita kanker serviks tersebut lebih banyak memilih tidak kembali ke rumah sakit, tak lain karena mereka tahu bahwa pengobatan yang mereka lakukan hanya jadi sia-sia.

"Saya selalu tanya kenapa mereka tidak mau kembali lagi. Mereka bilang itu penyakit mahal, daripada saya buang-buang uang lebih baik saya tabung uang itu untuk sekolah anak-anak atau memberikan pakaian layak untuk suami saya. Karena suami saya kerja, dan harus tampil rapi," ungkapnya menirukan wanita yang ditemuinya.

Selain itu, tingginya angka kematian akibat kanker serviks pun dilatarbelakangi masyarakat Papua yang masih percaya dengan hal mistis.

"Mereka lebih percaya kesembuhan bisa didapat ketika mereka mendatangi 'orang pintar'. Makanya saya selalu mengedukasi mereka kalau sakit jangan cari 'orang pintar' tapi cari dokter," paparnya.

Selain itu katanya, masyarakat pun lebih suka memendam penyakitnya tersebut. Sebab jika melakukan pengobatan hal itu akan menjadi sia-sia belaka.

"Mereka juga bilang untuk apa berobat, toh nanti saya akan mati," paparnya. (one)