Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 25 Oktober 2017 | 05:40 WIB
  • Sering Lupa Bukan Berarti Pikun, Ini Alasannya

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Diza Liane Sahputri
Sering Lupa Bukan Berarti Pikun, Ini Alasannya
Photo :
  • Pixabay/jarmoluk
ilustrasi demensia

VIVA – Lupa merupakan salah satu tanda dari penyakit demensia. Namun, sifat pelupa tersebut menjadi sangat umum sehingga sulit dikenali sebagai indikasi demensia.

Demensia memiliki salah satu tanda khas yaitu pelupa karena adanya penurunan ingatan di otak. Saat seseorang menjadi pelupa, timbul kekhawatiran akan hadirnya gangguan memori pada otak.

"Keluhan lupa belum tentu karena gangguan memori. Misal pada anak atau remaja yang sering lupa, bisa saja karena kurang fokus sehingga sulit memasukkan data yang di luar ke dalam ingatannya, tapi bukan berarti dia ada gangguan memori," ujar Dr. dr. Yuda Turana SpS, Pakar Neurologi dan Dekan FK Unika Atmajaya ditemui VIVA.co.id di Jakarta.

Sementara itu, demensia terjadi saat adanya penurunan fungsi otak di area kognitif dan perilaku yang terjadi di usia tua. Biasanya demensia dimulai dengan kerusakan area kognitifnya yakni gangguan saat mengingat. Sehingga, orang dengan demensia cenderung lupa mengingat akan hal yang sedetik lalu baru saja ia lakukan.

"Fungsi kognitif biasanya menjangkau area memori, ini digunakan untuk menilai seseorang idap demensia, dengan menggunakan neurosikologis assesment. Dengan begitu, kita bisa melihat hasilnya apakah fungsi memorinya memang rusak atau tidak," paparnya.

Setelah menilai adanya kerusakan pada fungsi otak tersebut, maka dilakukan pemeriksaan secara struktur otak menggunakan MRI. "Kalau semua pemeriksaan positif, kami bisa diagnosa seseorang idap demensia," jelasnya.

Sayangnya, seringkali kesadaran akan memeriksakan fungsi otak, masih sering terlambat. Tidak jarang, mereka pengidap demensia akhirnya terlambat untuk ditangani.

"Banyak yang akhirnya sudah mencapai gangguan perilaku, sehingga menimbulkan kegaduhan di antara keluarga atau lingkungan tempat tinggal. Maka, deteksi dini harus dilakukan sebelum gangguan kognitif atau kerusakan memori terjadi," jelasnya.

"Kalau tidak ada keluhan, bisa cek seluruh tubuh secara medis di usia 60 tahun saja. Kalau mulai keluhan lupa dan gejala demensia lainnya, serta ada faktor risiko demensia, bisa segera dicek sebelum usia 60 tahun," jelasnya.