Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 26 Oktober 2017 | 14:10 WIB
  • Langkah Kemenkes RI Cegah Permasalahan Gizi

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Diza Liane Sahputri
Langkah Kemenkes RI Cegah Permasalahan Gizi
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi buah dan sayur

VIVA – Kemenkes RI menjadi salah satu pelopor Asia Pacific Food Forum (APFF) yang akan dilaksanakan pada 30 Oktober mendatang di Jakarta. Ini merupakan salah satu cara untuk mencegah gizi buruk melalui diskusi berkualitas terkait ketahanan sistem pangan.

Menkes RI Nila Moeloek mengakui kaitan pangan buruk dapat berisiko pada masalah nutrisi masyarakat. Dalam hal ini, Kemenkes RI melakukan langkah pencegahan untuk mengatasi masalah kekurangan maupun kelebihan gizi melalui inovasi pangan yang berkualitas baik.

"Kita melihat kaitan masalah pangan buruk yang memicu tubuh sakit. APFF menjadi ajang berkumpulnya diskusi dari berbagai macam stakeholder yang menjadi langkah preventif dari kemenkes dalam mencegah penyakit," ujar Staf khusus Kementerian Kesehatan di bidang Peningkatan Kemitraan dan SDG’s, Diah S. Saminarsih, dalam temu media Indonesia Pelopor Forum Asia Pasifik, di Kemenkes RI, Jakarta, Kamis, 26 Oktober 2017.

Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia sendiri sudah mulai mampu mengatasi permasalahan gizi di masyarakat. Dari data, anak yang alami stunting di Indonesia telah menurun dari 37,2 persen menjadi 27,5 persen. Meski begitu, data-data lebih lanjut masih terus dibutuhkan untuk memberi pemahaman pada masyarakat.

"Di APFF akan ada penyampaian hasil riset dan pertukaran gagasan antar stakeholder. Serta, kami juga akan mengangkat topik seputar riset gizi dan makanan, pola makan anak, produksi makanan yang berkaitan dengan perubahan iklim," papar Diah.

Selain itu, paparan terkait kekurangan konsumsi mikronutrisi serta pengolahan limbah makanan akan digalakkan untuk terus menjaga ketahanan sistem pangan di Indonesia, Asia, bahkan dunia. Dengan begitu, pembentukan sumber daya manusia yang baik dan berkualitas bisa ditingkatkan.

"Dari riset yang ada, diharapkan dapat memberi inovasi baru pada transformasi pangan. Seperti adanya mahasiswa yang mengolah herbology yaitu bahan herbal yang bisa dikonsumsi dan bergizi tinggi, kita mengharapkan inovasi yang lebih banyak lagi dari APFF."