Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 31 Oktober 2017 | 11:48 WIB
  • Penderita Autisme Lebih Rentan Bunuh Diri

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Bimo Aria
Penderita Autisme Lebih Rentan Bunuh Diri
Photo :
  • pixabay/pexels
ilustrasi pria

VIVA – Sebuah penelitian menyebutkan, orang dengan sifat autistik lebih cenderung melakukan bunuh diri karena mereka merasa 'dijauhi' oleh masyarakat sehingga mengalami depresi. Karenanya para peneliti beranggapan bahwa mengkampanyekan soal keterbukaan sosial, bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

"Ini adalah suatu yang mengejutkan kita harus segera melakukan lebih banyak untuk menghargai keanekaragaman. Pada akhirnya ini bisa menyelamatkan nyawa," kata Mirabel Pelton, seorang peneliti di Coventry University.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal Autism Research, melibatkan 163 orang berusia antara 18 dan 30 tahun yang menyelesaikan survei online yang mengajukan berbagai pertanyaan untuk menetapkan tingkat autisme, depresi dan perilaku bunuh diri.

Penelitian Ini juga memeriksa perasaan interpersonal yang mungkin terkait dengan usaha bunuh diri, seperti percaya bahwa mereka tidak termasuk atau tidak cocok di dunia, dan menjadi beban orang lain. Para akademisi menggunakan tes standar dan model psikologis untuk menyelidiki hubungan antara sifat autistik, depresi, perasaan tidak memiliki dan menjadi beban dan perilaku bunuh diri.

Hasilnya, disampaikan kepada komite penasihat federal Amerika, dan menyarankan agar peserta yang menunjukkan tingkat autisme lebih tinggi berisiko melakukan perilaku bunuh diri selama masa hidup mereka.

Tingkat sifat autistik yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan kerentanan terhadap perasaan depresi dan tidak termasuk di dunia, yang mungkin menempatkan mereka pada risiko lebih besar untuk mencoba bunuh diri. 

"Ini adalah masalah hidup dan mati. Penelitian sampai saat ini telah gagal untuk memahami kaitan antara sifat autistik dan bunuh diri namun penelitian ini menunjukkan bahwa mempromosikan inklusi (keterbukaan sosial) dan kemandirian secara sosial dapat menyelamatkan kehidupan," Pelton menambahkan.