Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 2 November 2017 | 18:05 WIB
  • Penggunaan Obat Nyeri untuk Kanker di Indonesia Masih Rendah

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Bimo Aria
Penggunaan Obat Nyeri untuk Kanker di Indonesia Masih Rendah
Photo :
  • VIVA.co.id/ Adinda Permatasari
Peduli Kanker Anak

VIVA – Masalah nyeri masih menjadi salah satu gangguan fisik yang dialami penderita kanker. Beberapa waktu lalu Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan panduan dalam menangani nyeri, yang disebut sebagai "The three-step analgesic ladder”. 

Pendekatan ini merekomendasikan bahwa obat-obat analgesik dipilihkan secara berjenjang berdasarkan beratnya rasa nyeri yang dialami. Menurut, Dra. R. Detti Yuliati, Apt. M,SI,  Direktur Pelayanan Kefarmasian dari Kementerian Kesehatan RI, salah satu obat penting dan perlu mendapat perhatian besar yang direkomendasikan dalam panduan ini adalah Opioid Analgesik. 

"Obat ini telah terbukti sangat bermanfaat dalam mengatasi nyeri kanker yang berat," ungkap Detti, saat ditemui di RS Dharmais, Jakarta Barat, Kamis 2 November 0217. 

Detti menmbahkan, dalam catatan pelaporan penggunaan Opioid Analgesik, Indonesia termasuk negara yang masih sangat kurang dalam pemakaian obat ini dibanding negara Iain, bahkan dibanding negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. 

"Padahal jumlah penderita kanker kita cukup banyak, sehingga dapat diartikan bahwa sebagian besar pasien kanker di Indonesia masih hidup dalam penderitaan nyeri," ujarnya. 

Menurut laporan International Narcotics Control Board (INCB), penggunaan Opioid Analgesik di Indonesia adalah sebesar 2 S-DDD (Statistic Devine Daily Dose). Sedangkan standar internasional berdasarkan INCB nilai minimal adalah 100 S-DDD.

"Memang ada beberapa faktor yang bisa jadi penyebab hal tersebut yaitu  misal ketersediaan obat opioid analgesik, pengetahuan dan keengganan dokter untuk meresepkan obat Opiat Analgesik, sampai regulasi sendiri," ungkap dia

Ia menambahkan bahwa kesiapan petugas farmasi di fasilitas kesehatan, dan bahkan para pasien yang dipengaruhi oleh mitos tertentu mengenai obat ini juga jadi kendala.

Untuk itu, perlu kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk kemudahan akses, dan ketersediaan obat.  Di samping itu, edukasi para petugas kesehatan juga harus jadi perhatian untuk meningkatkan pelayanan terhadap pasien dengan nyeri kanker di Indonesia. 

"Sosialisasi kepada masyarakat serta dukungan dari organisasi-organisasi masyarakat maupun organisasi profesi ini penting akan menyempurnakan upaya tercapainya bebas nyeri pada pasien kanker," ungkap Detti. (ren)