Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 9 November 2017 | 00:02 WIB
  • Kenali Gejala Depresi Korban Pelecehan Seksual

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Bimo Aria
Kenali Gejala Depresi Korban Pelecehan Seksual
Photo :
  • Pixabay/pexels
Ilustrasi wanita

VIVA – Korban kekerasan seksual seringkali tidak mendapatkan pendampingan yang tepat. Hal ini berujung pada enggannya korban untuk melaporkan kasusunya karena kerap distigmatisasi. 

Kekerasan seksual ternyata juga punya dampak yang mengerikan pada gangguan kesehatan, terutama kesehatan mental.Tristan Coopersmith, seorang psikoterapis dan pendiri Lab Kehidupan, tempat perlindungan wanita di Los Angeles, mengatakan bahwa jumlah korban psikologis dan fisik dari kasus ini beragam, mulai dari yang ringan sampai yang parah.

"Keselamatan, keamanan dan harga diri semuanya mendapat pukulan besar saat seorang wanita dilecehkan secara seksual," kata Coopersmith seperti dilansir dari The Huffington Post.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa untuk menggambarkan depresi, penderita akan lebih sering merenung dan ingatan, juga rasa malu yang membesar. Hal ini pada akhirnya menurunkan harga diri dan dapat menyebabkan depresi jika tidak ditangani.

Rasa takut dilecehkan lagi juga bisa memiliki efek merugikan pada tubuh. Menurut American Psychological Association, dari waktu ke waktu, tekanan yang ekstrem dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh, pembuluh darah dan pencernaan. 

Kolesterol dan tekanan darah tinggi dan kecemasan umum dan kenaikan berat badan juga bisa menjadi hasil jangka panjang, menurut psikolog Miami Erika Martinez. Siapa pun yang mengalami pelecehan, tidak peduli gender atau orientasi seksual mereka, dapat terpengaruh dengan cara ini.

"Gejala fisik mungkin termasuk mati rasa, hiperventilasi, bingung (gamang), sakit fisik seperti sakit perut, sakit kepala dan pusing," kata Debra Castaldo, seorang terapis di The Centre for Couples and Family Solutions. 

Ia mengungkapkan bahwa korban merasa tidak berdaya dan terjebak, sehingga tidak dapat berpikir jelas untuk menemukan solusi. Hal tersebut sering yang menyebabkan perasaan malu dan bersalah yang membuat para korban enggan berbicara.