Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 18:11 WIB
  • Mengukur Kualitas Stem Cell yang Disimpan dalam Jangka Lama

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Diza Liane Sahputri
Mengukur Kualitas Stem Cell yang Disimpan dalam Jangka Lama
Photo :
  • Pixabay/ PublicDomainPictures
Stem Cell

VIVA – Terapi stem cell kini dapat menjadi suatu pilihan atau alternatif untuk mengatasi masalah-masalah ekstrem di bidang kedokteran.

Stem Cell dipercaya dapat menjadi jalan keluar dari penyembuhan berbagai penyakit. Di beberapa Rumah Sakit besar sudah mulai dilakukan pengobatan dengan Stem Cell, ada yang diambil dari sumsum tulang, kulit pasien, sel-sel ini dibiakkan di luar tubuh dan setelah itu disuntikkan ke organ tubuh yang rusak atau tidak berfungsi.

Kendati demikian, stem cell yang disimpan dalam jangka lama, tidak menjamin kualitas yang baik dan masih bisa digunakan.

Stem cell sendiri terbagi dua yaitu autogenik dan alogenik. Autogenik sendiri berasal dari orang lain yang artinya didonor untuk diambil oleh yang membutuhkan.

"Bagian paling penting dari stem cell yaitu quality control. Untuk stem cell autogenik, dibutuhkan quality control yang sangat tinggi karena ini didonor oleh orang lain dan nantinya akan digunakan oleh orang lain yang membutuhkan, ini harus cocok," ujar Direktur PT Biofarma Adiluhung, dr. Sandy Qlintang dalam penandatanganan MoU 3 Partit Pelayanana Berbasis Sel Punca, di IMERI, Jakarta, Jumat 10 November 2017.

Dilanjutkan Sandy, stem cell milik sendiri atau alogenik lebih baik digunakan untuk kebutuhan tubuh. Perihal tersebut membutuhkan tempat penyimpanan yang tidak biasa. Karenanya perawatan pada stem cell butuh biaya yang tidak sedikit.

"Sebulan bisa mencapai Rp200 juta untuk perawatan tempat penyimpanan stem cell. Pemakaian stem cell sendiri memakan biaya cukup besar tergantung kebutuhan jumlah selnya," kata Sandy.

"Stem cell alogenik (milik sendiri) pastinya lebih murah. Kalau autogenik pasti lebih mahal karena itu dari orang lain. Di luar negeri, biaya terapi stem cell bisa mencapai Rp400 juta. Di Indonesia bisa di bawah itu harganya," jelasnya.

Meski begitu, penggunaan pilihan stem cell ini harus melalui pertimbangan matang. Bagi Ketua pelaksana 2nd Open Scientific Meeting, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SPPD-KHOM, penyimpanan stem cell yang tidak tepat malah membuatnya rusak dan tidak dapat dipakai.

"Penyimpanan 50 tahun, kualitas stem cell bisa di bawah 1 persen. Lebih baik dapat donor langsung saat dibutuhkan karena penyimpanan stem cell dalam waktu lama memang harus ditempatkan secara tepat," paparnya di tempat yang sama.