Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 13 November 2017 | 10:38 WIB
  • Lawan Pikun dengan Jamur

  • Oleh
    • Finalia Kodrati,
    • Adinda Permatasari
Lawan Pikun dengan Jamur
Photo :
  • Pixabay/Engin_Akyurt
Ilustrasi jamur

VIVA – Para ilmuwan mengklaim bahwa dengan mengonsumsi lima jamur kancing bisa menghentikan datangnya demensia atau secara awam dikenal dengan pikun. Selain itu, jamur ini juga bisa memangkas risiko penyakit jantung dan bahkan mencegah kanker.

Para peneliti menemukan bahwa jamur sangat kaya akan dua antioksidan yang bisa melawan penuaan dan menunjang kesehatan. Antioksidan ergothioneine dan glutathione dapat melawan radikal bebas, yang merusak molekul yang sangat berkaitan dengan demensia, berbagai bentuk kanker, dan bahkan penyakit jantung.

Kini, sebuah studi baru menunjukkan bahwa jamur tidak diragukan lagi merupakan sumber makanan yang sangat kaya dengan kombinasi antioksidan itu.

"Beberapa jenis sangat padat dengan kedua antioksidan ini," ujar peneliti utama Profesor Robert Beelman, dari Pennsylvania State University seperti dikutip laman Daily Mail.

Seiring tubuh menggunakan oksigen, dia akan melepaskan radikal bebas. Para ilmuwan telah lama menduga bahwa racun dari radikal bebas ini mendorong demensia. Racun ini berjalan ke seluruh tubuh untuk mencari pasangan elektronnya, sehingga menyebabkan kerusakan sel, protein, dan DNA. Proses ini dikenal sebagai stres oksidatif.

Profesor Beelman mengatakan, pada akhirnya hal tersebut bisa menyebabkan kerusakan parah yang terkait dengan kanker, penyakit jantung koroner dan Alzheimer.

Dengan menambah kembali antioksidan dalam tubuh, bisa membantu melindungi dari stres oksidatif ini. Namun, beberapa studi meragukan teori ini.

Profesor Beelman dalam jurnal Food Chemistry mengatakan, memasak jamur nampaknya tidak mempengaruhi kandungan antioksidan ini secara signifikan. Dia menyimpulkan bahwa hasilnya bisa menjelaskan kenapa negara-negara yang banyak mengonsumsi jamur seperti Prancis dan Italia, memiliki angka demensia yang rendah.

Ia juga menambahkan bahwa hasil ini masih permulaan, dan tidak langsung menimbulkan sebab dan akibat. Namun, dia mengklaim bahwa perbedaan antara negara-negara dan pola makannya bisa menjadi sesuatu yang diperhatikan.