Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 15 November 2017 | 11:17 WIB
  • Waspada Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronik

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Diza Liane Sahputri
Waspada Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronik
Photo :
  • Pixabay/OpenClipart-Vectors
Ilustrasi sistem pernapasan dan paru-paru.

VIVA – Penyakit Paru Obstruktif Kronik, atau PPOK menempati peringkat ke empat sebagai penyebab kematian utama di dunia dan diperkirakan menjadi yang ketiga di 2020.

Yang membuat keadaan semakin rumit adalah kurangnya kesadaran dan stigma sosial, terkait penyakit tersebut. Kurangnya kesadaran dan hadirnya stigma sosial, memicu hanya separuh dari sekitar 210 juta orang yang diperkirakan menderita PPOK telah resmi didiagnosis.

Prof. dr. Faisal Yunus dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyatakan bahwa Indonesia memiliki masalah dengan kesadaran mengenai PPOK.

"Tidak semua penderita merasakan, atau bahkan menyadari gejalanya. Mereka pikir hanya penyakit batuk yang tidak kunjung sembuh. Padahal, mereka mungkin sedang menderita PPOK, kondisi yang jauh lebih serius. Harus dilakukan pemeriksaan spirometri dan toraks untuk mendiagnosa pasien PPOK," ujar Prof. Faisal seperti dikutip dalam rilis Royal Philips, Rabu 15 November 2017.

Gejala PPOK termasuk napas yang pendek-pendek, batuk kronis, kelelahan dan rasa sesak di dada yang berkembang secara perlahan dan tak terasa. Bahkan, jika tidak diobati, kondisi ini bisa menyebabkan kematian.

Di Indonesia sendiri, PPOK biasanya dikaitkan dengan merokok dan polusi udara, tetapi penelitian telah menemukan bahwa orang yang tidak merokok pun bisa terkena PPOK. Data yang tercatat cukup mengkhawatirkan.
 
"Sebuah studi biomassa sebagai kolaborasi antara Indonesia dan Vietnam yang dilakukan pada tahun 2013, menemukan bahwa prevalensi PPOK pada pasien bebas rokok sama tingginya. Studi tersebut melibatkan orang-orang di atas 40 tahun yang tinggal di Banten dan DKI Jakarta, sehingga menemukan prevalensi pasien PPOK sampai 6,3 persen," katanya. (asp)