Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 15 November 2017 | 14:20 WIB
  • 56,6 Juta Orang Idap Penyakit Paru Kronis

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Diza Liane Sahputri
56,6 Juta Orang Idap Penyakit Paru Kronis
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi paru-paru

VIVA – Data WHO mencatat, di Asia Pasifik sebanyak 56,6 juta jiwa mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis, atau PPOK ringan hingga berat. Riset Kesehatan Dasar Indonesia 2013, juga mengungkapkan bahwa jumlah pasien PPOK naik 3,7 persen.

Tanda gejala dari PPOK sebenarnya mudah dikenali. Tanda pertama adalah batuk kronis yang berlangsung beberapa minggu disertai susah bernapas, produksi sputum (dahak), mengi, dan sesak di dada. Sayangnya, jarang yang mengenali tanda gejala tersebut dan cenderung dianggap sepele.

"PPOK merupakan salah satu penyakit yang paling umum, namun kurang terdiagnosis. Padahal, penyakit ini melemahkan, bahkan mematikan dan penanganannya mahal," ujar Suryo Suwignjo, presiden direktur Philips Indonesia, dikutip dari rilis Royal Philips yang diterima VIVA pada Rabu 14 November 2017.

Secara global, Philips bekerja dengan Russell Winwood, seorang atlet trialton yang masih aktif, untuk berbagi pengalaman pribadinya sebagai pasien PPOK, serta menginspirasi sesama penderita PPOK untuk mampu menjalani kehidupan mereka sepenuhnya. Setelah didiagnosa mengidap PPOK, Russell merasa sulit untuk melakukan rutinitas kesehariannya.

Namun, hanya enam bulan setelah diagnosa, ia berhasil menyelesaikan trialton Ironman pertamanya secara penuh dan terus berpartisipasi dalam kompetisi triatlon di seluruh dunia. Ini menunjukkan bahwa diagnosis PPOK tidak perlu menjadi halangan pasien melakukan kegiatan favorit mereka.

Untuk itu, pasien PPOK yang baru saja terdiagnosa, Winwood berbagi saran untuk tetap hidup dengan baik. Pertama, yaitu pasien bisa paham apa artinya mengidap PPOK dan harus bekerjasama dengan dokter untuk membuat rencana perawatan yang disesuaikan guna membantu memonitor kemajuan. 

"Dilanjutkan pengobatan. Meskipun tidak ada obat untuk PPOK, ada banyak pilihan pengobatan termasuk obat resep, terapi tekanan PAP (positif saluran napas), konsentrator oksigen portabel, dan terapi ventilasi yang dapat membantu pasien mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan meneliti dan memiliki pemahaman yang kuat tentang pilihan pengobatan yang tersedia, pasien dapat berdiskusi dengan dokter tentang rencana perawatan," ujarnya.

Selanjutnya, yaitu nutrisi yang sehat dan bergizi. Sebab, pola makan tidak sehat dapat memperburuk gejala dan memengaruhi kemampuan beraktivitas. Serta olahraga untuk membantu memperbaiki tingkat kebugaran pernapasan kardio dengan memperkuat kelompok otot besar di dalam tubuh seseorang, sekaligus meningkatkan sirkulasi.