Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 16 November 2017 | 15:45 WIB
  • Alami Traumatis, Wanita Rentan Obesitas

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Adinda Permatasari
Alami Traumatis, Wanita Rentan Obesitas
Photo :
  • REUTERS/Juan Carlos Ulate
Ilustrasi wanita obesitas

VIVA – Menurut sebuah studi baru, wanita yang pernah mengalami kejadian traumatis memiliki kemungkinan besar menderita obesitas.

Dilansir dari laman Daily Mail, sejumlah peneliti dari Universitas California, Amerika Serikat, menemukan bahwa semakin banyak peristiwa traumatis yang dilaporkan dialami wanita selama lima tahun terakhir, semakin besar kemungkinannya menjadi obesitas.

Penelitian yang dipresentasikan di seminar tahunan American Heart Association ini, dilaksanakan berdasarkan pada studi-studi sebelumnya yang meneliti bagaimana stres bisa memengaruhi kebiasaan makan dan memicu penambahan berat badan.

Tapi, penelitian ini merupakan satu di antara beberapa penelitian pertama yang meneliti hubungan antara obesitas pada wanita dan stres.

Sebanyak 20 persen dari orang yang pernah mengalami trauma akan menderita PTSD (post traumatic stress disorder), tapi wanita memiliki kecenderungan dua kali lebih besar menderita gangguan ini dibandingkan para pria.

Alami Kejadian Traumatis Buat Wanita Rentan ObesitasStres dari sebab seperti bullying dan tekanan ekonomi, telah terdokumentasi baik kaitannya dengan gangguan makan, termasuk makan berlebih dan obesitas.

"Sedikit yang diketahui mengenai bagaimana peristiwa hidup yang negatif dan traumatis memengaruhi obesitas pada wanita," ujar peneliti senior Dr Michelle A. Albert.

Albert menambahkan, semua sudah mengetahui bahwa stres mempengaruhi prilaku, yang meliputi baik kurang atau makan berlebih, begitu juga dengan aktivitas neuro-hormonal yang sebagian bisa meningkatkan produksi krotisol, yang berkaitan dengan penambahan berat badan.

Melalui satu saja peristiwa traumatis dalam hidup, bisa meningkatkan risiko obesitas hingga 11 persen, melebihi wanita yang dilaporkan tidak pernah mengalami peristiwa traumatis.

Sedangkan mereka yang mengalami empat atau lebih peristiwa hidup yang negatif, memiliki risiko lebih tinggi hingga 36 persen menjadi obesitas.

Albert mengatakan bahwa temuan studi ini menganjurkan agar kita harus mempertimbangkan penilaian dan perawatan stres psikologis dalam pendekatan untuk manajemen berat badan.

"Potensi pengaruh terhadap kesehatan publik cukup besar, karena obesitas berkaitan dengan meningkatnya risiko serangan jantung, stroke, diabetes, dan kanker, serta berkontribusi dalam menambah biaya pelayanan kesehatan," imbuh Albert.