Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 20 November 2017 | 11:05 WIB
  • Patah Hati Sama Bahayanya dengan Serangan Jantung

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Bimo Aria
Patah Hati Sama Bahayanya dengan Serangan Jantung
Photo :
  • Dok. Istimewa
Ilustrasi patah hati.

VIVA – Tekanan emosional yang parah, dapat memicu kondisi jantung mendadak yang menimbulkan kerusakan jangka panjang yang sama seperti serangan jantung, demikian berdasarkan penelitian baru.

Takoesubo cardiomyopathy , atau "sindrom jantung patah"  memengaruhi setidaknya 3.000 orang di Inggris, dan biasanya dipicu oleh kejadian traumatis seperti kehilangan. Selama serangan, otot jantung melemah ke titik, di mana ia tidak dapat lagi berfungsi secara efektif.

Meski penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa kerusakan yang terjadi bersifat sementara, para ilmuwan di University of Aberdeen, sekarang menemukan bahwa efeknya dapat bersifat permanen, seperti serangan jantung.

Dalam studi yang didanai oleh British Heart Foundation (BHF), tim dokter memeriksa 37 pasien Takostubo untuk jangka waktu rata-rata dua tahun, dengan menggunakan pemindaian ultrasound dan MRI.

Mereka mempresentasikan temuan mereka di American Heart Association Scientific Sessions di Anaheim, California, dan mengungkapkan bahwa para partisipan memiliki kerusakan yang tidak dapat diobati pada jaringan otot jantung yang mengurangi elastisitas yang mencegah kontraksi penuh setiap detak jantung.

"Takotsubo adalah penyakit yang menghancurkan, yang tiba-tiba dapat menyerang orang lain yang sehat," jelas Profesor Jeremy Pearson, Associate Medical Director di BHF dilansir dari independent, Senin 20 November 2017.

Menurut studi lain yang dilakukan oleh Harvard Medical School, lebih dari 90 persen kasus yang dilaporkan dari Takostubo adalah wanita berusia antara 58 dan 75 tahun.

"Kami pernah mengira dampak dari penyakit yang mengancam jiwa ini bersifat sementara, tetapi sekarang kami dapat melihat bahwa mereka dapat terus memengaruhi orang selama sisa hidup mereka,” tuturnya.

Pearson menambahkan, saat ini tidak ada perawatan jangka panjang untuk pasien, karena petugas medis sebelumnya mengira semua penderita akan sembuh total.

"Penelitian baru ini menunjukkan ada efek jangka panjang pada kesehatan jantung dan menyarankan, agar kita merawat pasien dengan cara yang serupa dengan orang yang berisiko mengalami gagal jantung," kata dia.