Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 20 November 2017 | 11:11 WIB
  • Terlalu Banyak Konsumsi Tahu Picu Potensi Kanker Prostat

  • Oleh
    • Anisa Widiarini
Terlalu Banyak Konsumsi Tahu Picu Potensi Kanker Prostat
Photo :
Tofu

VIVA – Apakah Anda gemar mengonsumsi tahu? Jika ya, nampaknya Anda harus mulai berhati-hati sejak sekarang. Karena sebuah studi menuliskan bahwa mengonsumsi kedelai dalam jumlah tertentu, mampu memicu potensi kanker porstat pada pria. 

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Cancer itu melibatkan lebih dari 27 ribu responden pria dan mengaitkannya dengan beberapa kandungan dalam kedelai yang berpotensi meningkatkan risiko sel kanker agresif yang menyebabkan kanker prostat.

Dilansir Menshealth, penelitian yang berlangsung selama 12 tahun ini menemukan bahwa pria yang mengonsumsi banyak isoflavon (kandungan dalam kedelai), akan mengalami 91 persen potensi kanker prostat.

Dalam penelitian tersebut juga dikatakan bahwa sebetulnya secara langsung mengonsumsi kedelai, atau olahannya seperti tahu, susu kedelai, atau minuman protein kemasan tidak terlalu berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka pendek pada tubuh pria. Namun, berdampak serius, jika dilakukan dalam jangka panjang dan terus menerus.

Penulis penelitian tersebut  Jianjun Zhang, M.D., Ph.D. menyebutkan bahwa ada keterkaitan serius antara isoflavon dan hormon estrogen pada pria. Secara sturktural, hormon estrogen memiliki bentuk yang sama.

Estrogen telah dikaitkan dengan kanker prostat, karena jika terpecah senyawa sampingannya menjadi 'genotoksik',  kata Dr. Zhang. 

Itu berarti, mereka dapat merusak informasi genetik di sel prostat Anda, yang mungkin menyebabkan mutasi penyebab kanker. Namun. periset perlu menyelidiki lebih dalam mengapa kaitan itu hanya terlihat pada kasus prostat, ataukah dapat terjadi pada kanker prostat pada umumnya.  

"Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan pada topik pada umumnya, untuk mengonfirmasi kaitan tersebut," kata Dr. Zhang 

Lebih lanjut, Zhang mengungkapkan bahwa pada populasi yang lebih beragam, di mana orang cenderung makan lebih banyak kedelai. Namun, yang terpenting adalah angka asupan kedelai per harinya.

Jadi, haruskah Anda khawatir dan berhenti konsumsi kedelai? Ternyata, Zhang mengatakan bahwa Anda tidak perlu terlalu khawatir.

"Benar-benar tidak masalah, selama kadarnya tidak berlebihan dan tidak dikonsumsi dalam jangka panjang," ujarnya.