Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 21 November 2017 | 14:49 WIB
  • Menilik Perilaku Setya Novanto dari Kacamata Psikolog

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Adinda Permatasari
Menilik Perilaku Setya Novanto dari Kacamata Psikolog
Photo :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Pemeriksaan Perdana Setya Novanto

VIVA – Beberapa hari terakhir, hampir semua orang ramai membicarakan kasus kecelakaan yang dialami Ketua DPR Setya Novanto yang terjadi saat ia akan menuju gedung KPK, 16 November 2017 lalu.

Kecelakaan tersebut menyebabkan memar di kepalanya, namun ia justru terlihat seperti mengalami luka yang sangat parah.

Banyak yang menilai Novanto hanya sedang menampilkan drama agar terhindar dari jeratan hukum. Ia hanya berpura-pura mengalami sakit parah, padahal kondisi tubuhnya sehat-sehat saja.

Perilaku yang ditampilkan Novanto ini, dalam ilmu psikologi mirip dengan gejala malingering.  Menurut psikolog klinis Aurora Lumbantoruan, MPsi.Psi, malingering adalah upaya menghasilkan keluhan fisik maupun psikologis, yang disengaja, dibuat - buat atau dilebih - lebihkan, dengan tujuan memperoleh sesuatu atau keuntungan secara eksternal (dalam  DSM-IV-TR) .

Misalnya, menghindari wajib militer, tugas pekerjaan, memperoleh kompensasi finansial seperti dalam asuransi, menghindari tuduhan atau tuntutan pengadilan, atau untuk memperoleh obat yang diinginkan. Malingering sebenarnya bukan gangguan psikiatri, namun dimasukkan dalam kategori "kondisi yang menjadi perhatian klinis"

"Pada kasus Setya Novanto, dengan keberadaan beberapa konteks seperti pernah melakukan tindakan yang serupa, melebih-lebihkan buruknya kondisi fisik yang dialami, dan upaya menghindari proses hukum atau kemungkinan mendapatkan kesempatan untuk menang atas dugaan yang dituduhkan kepadanya, ada indikasi ia menampilkan malingering," ujar Aurora saat berbincang dengan VIVA.

Meski demikian, Aurora menekankan, diperlukan evaluasi yang mendalam untuk bisa menentukan kondisi malingering, yang juga harus dibedakan dengan gangguan psikologis seperti factitious disorder, yaitu keinginan menjalani peran sebagai pasien, tanpa motivasi untuk memperoleh benefit eksternal bagi diri sendiri, dan juga dibedakan dengan somatoform disorder  yaitu mengalami gejala-gejala sakit yang timbul tanpa disengaja.