Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 30 November 2017 | 11:16 WIB
  • Hati-hati, Terobsesi Kerapian Rentan Jadi Rasis

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Adinda Permatasari
Hati-hati, Terobsesi Kerapian Rentan Jadi Rasis
Photo :
  • REUTERS/Chris Aluka Berry
Demonstrasi anti-rasis di Atlanta, Georgia, AS.

VIVA – Sejumlah peneliti telah menemukan kaitan antara prasangka sosial dengan ketidaksukaan pada ketidaksesuaian visual. Sebuah studi baru yang dilakukan di Universitas Yale, Amerika Serikat menyatakan, bahwa kecenderungan pada keseragaman estetik, yang sering diartikan sebagai obsesi pada kerapian dan pengelompokan simetris sebagai basis baru prasangka.

Penelitian menjelaskan, kebencian pada hal seperti bingkai yang miring, garis yang melenceng dan meja berantakan bisa menjelaskan kenapa beberapa orang mendiskriminasi kelompok yang menyimpang secara sosial, seperti etnis minoritas dan pecandu obat-obatan terlarang.

Dilansir dari Independent, Kamis, 30 November 2017, setelah melakukan delapan rangkaian eksperimen pada anak-anak dan orang dewasa berdarah Amerika dan China, para peneliti menemukan bahwa mereka yang menunjukkan antipati pada keanehan geometris memiliki skor lebih tinggi pada tes diskriminasi.

Dalam penelitian, para partisipan diminta untuk menanggapi pola visual yang rusak dan skenario fiksi di mana terdapat segregasi sosial yang jelas. Salah satu skenario ini mengambil tempat di sebuah kota khayalan yang ditinggali oleh bangsa Flurps, di mana satu warganya tinggal di rumah berwarna hijau, sementara warga lainnya tinggal di rumah berwarna biru.

Kelompok lainnya yang digambarkan dalam foto meliputi orang obesitas, cross-dresser atau orang yang senang memakai pakaian lawan jenis dan pasien penderita kondisi penyakit kulit parah. Para peneliti menemukan ada kaitan kuat antara mereka yang merespons pada kebencian terhadap kelompok-kelompok ini dan mereka yang juga mengekspresikan ketidakpuasan terhadap penyimpangan pola.

Menurut laporan penelitian, yang dipublikasikan di jurnal Natural Human Behaviour, korelasi ini lebih prevalen di partisipan yang lebih tua. "Penelitian ini memang menyediakan penjelasan potensial sederhana mengenai kenapa orang merasa tidak tenang dan tidak suka orang yang menyimpang dari norma sosial," kata peneliti utama Anton Gollwitzer. (mus)