Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 6 Desember 2017 | 10:39 WIB
  • Dipanaskan, Nikotin Vape Lebih Positif Dibandingkan Rokok?

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Diza Liane Sahputri
Dipanaskan, Nikotin Vape Lebih Positif Dibandingkan Rokok?
Photo :
  • REUTERS/Christian Hartmann
Rokok Elektrik di Prancis

VIVA – Rokok elektrik atau vape masih menjadi pro kontra di kalangan masyarakat. Terlebih, tidak sedikit opini yang menyatakan bahwa rokok elektrik berdampak pada penurunan ketergantungan pada nikotin.

Dikutip dari siaran pers yang diterima VIVA, Rabu 6 Desember 2017, Di Inggris dan Jepang misalnya, pemerintahnya justru menerapkan aturan yang lebih lunak pada vape dan produk tembakau alternatif lainnya. Di Inggris, lebih dari 2,2 juta perokok telah berhasil berhenti total setelah beralih mengonsumsi rokok elektrik selama lima tahun. 

"Sedangkan di Jepang, rokok elektrik dapat memberikan dampak pada turunnya prevalensi merokok secara drastis dalam dua tahun terakhir. Sayangnya, fakta ini tampak tidak digubris oleh beberapa pihak," ujar Dimasz Jeremia perwakilan grup konsumen KABAR yang juga merupakan pembina Asosiasi Vaper Indonesia Indonesia dan pendiri Tar Free Foundation.

Selain itu, bentuk peraturan lain seputar vape juga dikeluarkan oleh Food and Drug Administration di Amerika Serikat pada Agustus 2017 di mana disebutkan peraturan anti tembakau akan difokuskan pada strategi pengurangan risiko, salah satunya melalui produk tembakau alternatif seperti vape, nikotin tempel, snus, serta produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar. 

Ditemui dalam kesempatan yang berbeda, peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia Dr. Amaliya mengharapkan agar semua hasil penelitian terkait vape yang sudah terbit sampai saat ini di kalangan peneliti dapat dijadikan bahan acuan perumusan regulasi, agar regulasi yang dikeluarkan tidak berujung kontraproduktif. 

"Jika landasan argumen pelarangannya adalah bahwa vape sama berbahayanya dengan rokok yang dikonsumi dengan cara dibakar, maka alangkah baiknya jika YLKI melakukan evaluasi menyeluruh pada penelitian soal produk ini," ujar Dr. Amaliya yang juga dosen pengajar di Universitas Padjajaran Bandung. 

Amaliya menjelaskan bahwa beberapa hasil penelitian yang dapat dijadikan bahan acuan bisa dilihat dalam data yang dirilis oleh Public Health England (PHE), atau agensi kesehatan independen di bawah Kementerian Kesehatan Inggris Raya pada 2015 mengutarakan bahwa produk nikotin yang dipanaskan dan bukan dibakar menurunkan risiko kesehatan hingga 95 persen dari rokok. 

Hal itu menunjukkan fakta bahwa kandungan yang berbahaya dari rokok yang dikonsumsi dengan dibakar adalah TAR, yaitu hasil pembakaran produk tembakau. 

Sementara nikotin yang selama ini sering dianggap paling berbahaya, memberikan dampak pada rasa candu. Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya nikotin juga terdapat di tomat, kentang, dan terong. Hal ini memberikan pencerahan bahwa permasalahan terbesar dari rokok yang dikonsumsi dengan dibakar adalah proses pembakaran.  

"Produk tembakau alternatif seperti vape, nikotin tempel, snus, dan produk tembakau yang dipanaskan dan bukan dibakar ini adalah sebuah hasil inovasi yang berpotensi mendistrupsi rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar dan menghadirkan dampak positif yang luar biasa massif. Sifatnya sama dengan teknologi dan inovasi disruptif lain yang mendorong dampak sosial," jelasnya.