Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 8 Agustus 2017 | 11:50 WIB
  • Pengusaha Mi Lethek Bantul Kewalahan Gara-gara Barack Obama

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Pengusaha Mi Lethek Bantul Kewalahan Gara-gara Barack Obama
Photo :
  • VIVA.co.id/Daru Waskita
Mi lethek yang sedang dijemur.

VIVA.co.id – Kedatangan mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, ke Yogyakarta beberapa waktu lalu ternyata berdampak besar bagi penjual mi lethek. Obama dan rombongan kala itu sempat menyantap makanan asli dari Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, itu.

Kini penjualan mie berbahan baku tepung tapioka ini pun mengalami peningkatan pesat. Mi lethek dengan merek Mie Bendo Asli Cap Garuda ini semakin diburu konsumen. Bahkan dalam satu hari, produksi mi mencapai satu ton ini tak mampu untuk memenuhi permintaan konsumen.

"Ya kalau dituruti permintaan dalam satu hari bisa mencapai dua ton mi lethek kering yang sudah dalam kemasan lima kiloan," kata Yasir Ferry Ismatrada kepada VIVA.co.id di rumah produksi mi lethek Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Selasa, 8 Agustus 2017.

Menurutnya, dalam satu hari pihaknya hanya mampu memproduksi 1,2 ton bahan baku tepung tapioka yang dicampur dengan tepung gaplek dan menghasilkan sekitar satu ton mi lethek kering.

"Jadi kalau cuaca hujan, yang jelas produksi turun drastis karena butuh matahari untuk menjemur mi lethek sebelum dikemas. Karyawan yang biasanya 35 orang ketika hujan yang masuk juga berkurang karena tidak bisa produksi," ucapnya.

Pria kelahiran 6 Februari 1975 ini mengungkapkan, untuk memproduksi satu ton mi lethek kering dibutuhkan dana sekitar Rp12 juta dan jika dijual per kilonya Rp65 ribu, maka pendapatan mencapai Rp65 juta.

"Ya kelihatannya besar tapi setelah dikurangi biaya bahan baku, bayar pegawai, bayar transportasi pengiriman barang, serta biaya untuk pakan dan minum tiga ekor sapi yang digunakan untuk mengaduk bahan baku dengan silinder tentunya keuntungan tidak banyak," kata dia.

Lebih jauh Ferry mengatakan dengan permintaan yang cukup banyak dan tidak mampu dipenuhi maka bantuan pemerintah sangat diharapkan, terutama akses permodalan.

"Alat kita semua tradisional. Untuk mengaduk bahan dengan silinder masih digerakkan oleh sapi. Pengeringan mi masih mengandalkan panas matahari, maka butuh alat yang modern dan sentuhan teknologi agar saat hujan deras tetap bisa berproduksi dan bisa melakukan pengeringan mi lethek," tuturnya.

Ahmad Rosidi, karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja di pabrik mi lethek ini mengaku cuaca yang tak menentu mengganggu produksi mi letheknya. Padahal pengeringan mi lethek butuh waktu sekitar 10 jam.

"Pagi mi lethek dijemur, sorenya sudah bisa kering dan dikemas," ujarnya.

Diakuinya karyawan pabrik mi lethek rata-rata usianya di atas 50 tahun dan berasal dari warga setempat. Banyak generasi yang enggan bekerja di pabrik mi lethek ini karena hasilnya kurang besar.

"Ya kalau seperti saya yang sudah tua tidak menuntut gaji yang tinggi. Yang penting cukup," ujarnya. (one)