Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 13 Agustus 2017 | 12:50 WIB
  • Mengintip Proses Pembuatan Mi Lethek Favorit Obama

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Mengintip Proses Pembuatan Mi Lethek Favorit Obama
Photo :
  • VIVA.co.id/Daru Waskita
Mi lethek sedang dijemur.

VIVA.co.id – Saat kunjungan ke Bantul, Yogyakarta beberapa waktu lalu, mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama bersama keluarga sempat santap siang di restoran Bumi Langit. Ternyata Obama begiu jatuh hati pada sajian mi lethek produk asli buatan warga Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan Kabupaten Bantul tersebut.

Mi yang berwarna putih ke hitam-hitaman atau berwarna kucel dengan bahan dasar tepung tapioka dicampur tepung gaplek atau tapioka ini bahkan masih dibuat dengan cara tradisional, yakni dengan melibatkan sapi untuk mencampur tepung gaplek dengan tepung tapioka. Tentu hal ini pun membuat penasaran para konsumen pecinta mi lethek.

VIVA.co.id coba mengunjungi tempat pembuatan mi lethek yang kini di kelola oleh Yassir Ferry Ismatrada di Dusun Bendo, tak jauh dari pinggiran Sungai Progo.

Pria berusia 41 tahun ini dengan ramah memberikan penjelasan proses awal produksi mi hingga mi siap dikemas dan dikirim kepada pedagang atau konsumen yang memesannya.

Tahap pertama adalah gaplek atau ketela yang telah dikeringkan ditumbuk halus. Setelah halus dan menjadi tepung gaplek, selanjutnya direndam dalam air selama dua hari. "Diendapkan dalam bak selama dua hari dengan tujuan getah yang ada dalam gaplek hilang atau bersih," katanya di Yogyakarta, Minggu, 13 Agustus 2017.

Setelah getah bersih, selanjutnya dicampur dengan tepung tapioka di dalam tempat khusus. Tepung gaplek dan tepung tapioka yang telah menyatu selanjutnya dikukus. "Proses menyelindar ini tenaga sapi digunakan untuk memutar silindar yang terbuat dari batu yang di bawahnya terdapat seperti cobek dalam ukuran cukup besar," ucapnya.

Setelah dikukus selama beberapa jam dan telah matang, kemudian dimasukkan lagi ke dalam cobek berukuran besar dan ditambah tepung tapioka kering dan disilindar lagi. "Fungsi dari penambangan tepung tapioka kering ini agar adonan dapat mengembang," ujarnya menjelaskan.

Setelah disilindar kedua kalinya, tahap selanjutnya adalah bahan baku dimasukkan dalam mesin pres untuk membentuk mi dan kembali dikukus. "Setelah matang, selanjutnya dimasukkan ke dalam air dingin. Setelah dingin kemudian dicetak kotak-kotak pada papan yang terbuat dari anyaman bambu dan siap untuk dikeringkan," tuturnya.

Pengeringan jika matahari bersinar terik hanya butuh waktu sekitar delapan jam sudah kering dan siap untuk dikemas. "Setiap kemasan berisi lima kilogram mi lethek dengan harga Rp65 ribu perkilogramnya," ucapnya.

Dengan pengerjaan yang masih tradisional dan sangat tergantung dari panas matahari, maka dalam satu hari ia hanya bisa memproduksi sekitar satu ton mi lethek. (mus)