Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 13 September 2017 | 14:19 WIB
  • Ngopi di Kafe Ini Diklaim Bisa Bikin Cerdas

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Lucky Aditya (Malang)
Ngopi di Kafe Ini Diklaim Bisa Bikin Cerdas
Photo :
  • VIVA.co.id/Lucky Aditya
Kafe Oase yang berkonsep perpustakaan dan ruang diskusi sebagai alternatif kongko sembari minum kopi di Kota Malang, Jawa Timur.

VIVA.co.id - Kongko sambil minum kopi dan mengobrol ngalor-ngidul berjam-jam dianggap tak produktif di kedai yang satu ini. Ngopi seyogianya sekalian menjadi aktivitas meluaskan cakrawala wawasan dan pengetahuan; tak sekadar menyeruput seduhan bubuk hitam itu.

Kedai kopi yang terobsesi menjadi tempat menongkrong kaum intelektual itu bernama Oase. Didirikan pada Januari 2017 oleh tiga pemuda mantan aktivis organisasi mahasiswa, antara lain Mochammad Fauzan, Hafid Fajri Ramadhan, dan Dwi Nova Arianto.

Letak kafe di pinggiran kota, tepatnya di Jalan Joyoutomo, V Blok F, Nomor 1, Merjosari, Kota Malang, Jawa Timur. Bangunan kafenya tiga lantai dan masing-masing seluas 90 meter persegi.

Kopi dan buku

Visi Oase menjadi tempat kongko kalangan intelektual bukan omong kosong belaka. Kafe itu memang tak sekadar menawarkan kopi-kopi istimewa, melainkan juga menyajikan menu bacaan variatif sekaligus ruang baca dan berdiskusi.

Ngopi di Kafe Ini Diklaim Bisa Bikin Cerdas

Bangunan kafe yang terdiri tiga lantai itu ditata sedemikian rupa untuk membikin nyaman dan betah para pengunjung: lantai satu untuk perpustakaan, lantai dua untuk tempat minum kopi sambil bersantai, dan lantai terakhir khusus untuk forum diskusi.

Koleksi bukunya terdiri buku-buku ilmu sosial-humaniora, politik, budaya, agama, sastra, dan bahkan bacaan untuk anak-anak. Sebagian besar buku hasil kolaborasi kafe Oase dengan Gubuk Tulis, komunitas literasi dengan program utama gerakan gemar membaca. Komunitas itu digagas Al Muiz Liddinillah, sang pengelola kafe yang berkawan dengan tiga pendirinya.

Jika berkunjung ke Oase untuk menikmati kopi atau sekadar menongkrong, pengunjung pertama-tama disambut deretan buku yang tersusun rapi di rak-rak kayu begitu masuk lobi. Di sudut lain ruang lobi, di dekat tangga menuju lantai dua, terdapat meja kasir sekaligus dipajangkan di sana sejumlah sampel kopi yang dikemas toples-toples kecil.

Kafe Oase juga memiliki jadwal rutin diskusi mingguan, rata-rata diselenggarakan sejumlah komunitas, di antaranya Gusdurian, Sabda Perubahan, Gubuk Tulis, Gubuk Justice, dan komunitas lain. Tema diskusinya macam-macam, mulai soal isu nasional yang sedang aktual sampai yang spesifik tentang kajian humaniora.

Bahkan, kafe Oase juga punya program andalan yang disebut kelas filsafat; forum diskusi terbatas membahas ilmu filsafat, yang diselenggarakan setiap Kamis. Sedang disusun program kelas menulis esai dan kelas sastra; forum diskusi terbatas yang mengkaji sastra. Sesekali mendatangkan narasumber utama yang dianggap menguasai tema-tema spesifik, misalnya, John Roosa dan Ignatius Haryanto.

Ngopi cerdas

Trio pendiri kafe dan Muiz, sang pengelola, mulanya jengah mengamati banyak kedai kopi atau kafe berkonsep modern yang hanya menawarkan menu kopi dengan ragam variasi--murni atau campuran. Bahkan tak jarang cuma jadi tempat swafoto.

Ngopi di Kafe Ini Diklaim Bisa Bikin Cerdas

Lebih jengah lagi, Muiz mula-mula bercerita, kala melihat sekelompok muda-mudi kongko, mengobrol aneka topik tak keruan, sesekali cekakak-cekikikan, sedari pagi sampai menjelang petang. Kalau ada fasilitas akses internet nirkabel, mereka bisa lebih betah lagi. Pesannya cuma secangkir kopi.

"Menurut saya, itu merugikan pemilik kafe, karena pesannya kopi, tapi nongkrongnya sampai kafenya tutup," katanya, mengandung cibiran, ketika ditemui VIVA.co.id di kafenya pada Selasa, 11 September 2017.

Tercetuslah kemudian ide mendirikan sebuah kafe literasi, kedai kopi yang menawarkan alternativ perpustakaan dengan ratusan buku bacaan bagi para pengunjung. "Ngopi kalau hanya sekadar ngopi garing (tak bermakna/bermanfaat)," ujar Muiz menyederhanakan kegiatan ngopi yang hanya bersifat hura-hura. Bagi kalangan mahasiswa, katanya, semacam itu jelas tak produktif; bukan ciri intelektual. "Di sini bisa membaca, bisa memilih diskusi yang diikuti."

Menu kopi yang ditawarkan Oase, Muiz sesumbar, pun bukan kopi sembarangan. Secara umum ada dua jenis kopi: robusta dan arabica. Jenis pertama terdiri empat varian, yakni Sridonoretno, Bajawa, Lanang LDR, dan Oase Kopi. Jenis berikutnya terdiri tiga varian, yaitu Juria, Bajawa, dan Toraja.

Kopi-kopi Nusantara itu diracik dengan cara murni alias orisinal. Pengunjung memilih langsung jenis kopi yang masih berbentuk bijian namun telah disangrai, lalu digiling hingga berwujud bubuk, dan dihidangkan dengan tiga pilihan penyajian: tubruk, Vietnamese drip, atau French press.

Misi kafe Oase menyajikan kopi lokal itu, kata Muiz, untuk "memberikan kesadaran cerdas ngopi". Kafenya pantang menyuguhkan kopi instan dengan kemasan sachet. "Kopi kalau sachet-an tidak cerdas." Dia meyakini, remaja atau pemuda yang terbiasa dengan tradisi instan kelak menjadi generasi instan; manja dan malas bekerja keras.

Kopi instan, dia berpendapat, tak baik juga untuk kesehatan. "Kalau kopi Nusantara, insya Alah sehat karena langsung diolah sendiri; pelanggan tahu wujud kopinya, dengan cara bagaimana mengolahnya."

Tiada yang rugi

Harga secangkir kopi di kafe Oase bervariasi, tetapi relatif terjangkau untuk kalangan mahasiswa atau pelajar, yakni Rp5.000 sampai Rp13.000. Buka mulai pukul 09.00 WIB sampai 01.00 WIB.

Ngopi di Kafe Ini Diklaim Bisa Bikin Cerdas

Muiz berterus terang, harga itu sudah dikonversikan dengan lama rata-rata waktu kongko pengunjung, termasuk mereka peserta diskusi yang kadang mencapai ratusan orang. Begitu pula dengan pengunjung yang betah berlama-lama saking keasyikan membaca buku.

Jadi, kata Muiz, "tidak ada yang rugi, apalagi pelanggannya sambil baca buku dan berdiskusi."

Koleksi buku di kafe Oase masih terbatas, awalnya 250 buku dan kini 450 buku. Muiz menargetkan koleksi buku sudah mencapai sedikitnya seribu buku, agar kian memperkaya referensi bacaan bagi pengunjung.

Koleksi perpustakaan Oase, di antaranya novel filsafat Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, novel Arus Balik dan Gerilya karya Pramoedya Ananta Toer, Anekdot Moskow karya Koesalah Soebagyo Toer, kumpulan kolom dan esai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang berjudul Islamku, Islam Anda, Islam Kita--Agama Masyarakat Negara Demokrasi, Dari Kamp ke Kamp karya Mia Bustam, dan lain-lain.

"Paling cepat, atau antrenya banyak itu novel Dunia Sophie--paling banyak dicari. Sama bukunya Gus Dur yang judulnya Islamku Islam Anda Islam Kita," kata Muiz.

Pengunjung yang akan meminjam buku di kafe Oase cukup mengonfirmasi kepada petugas kasir dengan menunjukkan buku dan menyerahkan kartu identitas semacam KTP atau SIM. Batas waktu peminjaman selama tujuh hari. Jika menghilangkan buku bacaan, pengunjung didenda dua kali harga buku.