Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 13 Oktober 2017 | 05:00 WIB
  • Mengintip Peralatan Dapur Aceh Tempo Dulu

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Dani Randi (Banda Aceh)
Mengintip Peralatan Dapur Aceh Tempo Dulu
Photo :
  • VIVA.co.id/Dani Randi
Dapur tradisional Aceh.

VIVA.co.id – Peralatan dapur khas Aceh tempo dulu dipamerkan pada peringatan hari jadi Museum Nasional, di Museum Aceh, Banda Aceh, Aceh, Kamis, 12 Oktober 2017. Alat masak hingga bumbu khas Aceh turut dipajang di sana.

Beragam bumbu dapur yang masih khas seperti tomat Aceh, cabai kering, bumbu pliek u, lengkuas, kelapa gongseng dan 50 jenis koleksi rempah masakan Aceh lainnya dipamerkan di Museum Aceh.

Begitu pula dengan peralatan masak yang biasa dipakai zaman dulu, sejenis jingki, alas periok, batu giling, gawai, cobek, lesung, tempat air, kukusan, pemeras pliek u, keuto yong dan masih banyak lagi.

“Ini kita tampilkan untuk memperkenalkan kembali ke masyarakat luas. Kan banyak juga yang belum mengetahui. Jadi ini sebagai edukasi bagi anak-anak sekolah,” ujar kepala Museum Aceh, Junaedah Hasnawati kepada VIVA.co.id di Banda Aceh, Kamis, 12 Oktober 2017.

Umumnya, barang-barang ini sudah mulai jarang terlihat di dapur-dapur rumah warga Aceh. Untuk itu ia mengajak semua masyarakat untuk kembali membudayakan peralatan tersebut. Setidaknya, kata dia, mengerti cara penggunaannya.

“Seperti tempat makanan yang digantung, itu kan mengajarkan kita bagaimana tingkat menjaga kebersihan yang sudah dipopulerkan oleh orangtua kita zaman dulu,” katanya.

Peralatan dapur Aceh tempo dulu.

                                       (VIVA.co.id/Dani Randi)

Rempah-rempah Aceh.

                                       (VIVA.co.id/Dani Randi)

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, Reza Fahlevi mengatakan, pihaknya mengangkat tema ‘Aroma Memikat dari Dapur Aceh’ kali ini untuk memperkenalkan kembali khazanah budaya kuliner di Aceh. Salah satunya, rempah-rempah yang diolah menjadi kuliner yang memiliki cita rasa tinggi.

“Perlu kita sosialisasikan agar ini lestari. Banyak masyarakat yang tidak mampu mengelola hasil rempah itu, racikan dan sebagainya. Makanya kita kenalkan kembali seperti rempah-rempah, bumbu, agar tidak hilang ditelan zaman,” ucap Reza.