Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 15 Oktober 2017 | 10:16 WIB
  • Desa Sanan, Penghasil Tempe di Malang yang Mendunia

  • Oleh
    • Zahrotustianah,
    • Lutfi Dwi Puji Astuti
Desa Sanan, Penghasil Tempe di Malang yang Mendunia
Photo :
  • VIVA.co.id/Lutfi Dwi Puji Astuti
Tempe dari Desa Sanan, Malang

VIVA.co.id – Selain kaya akan wisata alam dan kuliner khasnya, Malang juga terkenal sebagai kota penghasil tempe dengan rasa yang unik.

Saat mengikuti program Jelajah Gizi 2017 bersama Nutricia, Sabtu, 14 Oktober 2017, VIVA.co.id berkesempatan menyambangi Desa Sanan yang merupakan sentra industri penghasil keripik dan tempe.

Bukan sekadar desa biasa, di sini sebagian besar warganya merupakan penghasil tempe dan keripik tempe serta penganan lain berbahan dasar tempe, serta kedelai.

Sanan pun dahulunya bukan sebuah desa, melainkan hutan yang banyak ditumbuhi pohon Sono Keling. Dari situ lah nama Desa Sanan berasal.

Namun siapa sangka, desa ini kini menjadi maju dan terkenal bahkan menjadi kampung industri tempe yang berkembang pesat. Tak main-main, tempe Sanan bahkan sudah diekspor hingga ke Inggris.

Kini, Sanan juga dikenal sebagai desa wisata edukasi. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara berkunjung ke sini untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan tempe dan keripik.  

Tak hanya itu, lewat wisata edukasi tentang proses pembuatan tempe ini  bisa diketahui bahwa limbah sisa produksi tempe bisa dimanfaatkan untuk peternakan. Limbah tersebut digunakan untuk menggemukkan sapi dan limbah buangannya dimanfaatkan kembali sebagai biogas juga pupuk.

Menurut Arif, salah satu pengusaha tempe di Desa Sanan, ada dua RW yang aktif memproduksi tempe dan berbagai olahannya di desa ini, yakni RW 15 dan 16.

"Dari dua RW ini kira kira ada 450 perajin tempe yang aktif. Dan untuk mengolah tempe tiap harinya butuh 30 ton kedelai impor dari Amerika," tutur Arif.

Diakui pula olehnya, desa ini kini semakin banyak didatangi wisatawan. Karena tempe di kota Malang cukup terkenal, paguyuban di desa tersebut pun terus mengembangkan produk olahan dari tempe. Bukan hanya dijadikan keripik, tempe juga mulai diolah menjadi menu kekinian mulai dari steik tempe, satai, brownies, yoghurt, susu kedelai hingga masker dari bahan tempe.

"Yang utama tetap penghasil tempe dan keripik, yang lain hanya pelengkap saja," ujarnya. (art)