Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 22 Oktober 2017 | 14:53 WIB
  • Manual Brewing, Tren Penyeduhan Kopi Kekinian

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Dani Randi (Banda Aceh)
Manual Brewing, Tren Penyeduhan Kopi Kekinian
Photo :
  • VIVA.co.id/Dani Randi
Penyeduhan kopi dengan metode manual brewing

VIVA – Tren minum kopi saat ini sudah menjadi gaya hidup. Hal ini terlihat semakin menjamurnya warung kopi di hampir seluruh penjuru Indonesia. Terutama di Aceh, di mana budaya minum kopi sudah melekat erat dalam masyarakatnya.

Cara penyeduhan kopi ini pun semakin canggih. Seiring dengan kian digandrunginya minuman ini, menyeruput kopi dengan teknik manual brewing menjadi tren atau gaya hidup tersendiri.

Semakin ke sini, semakin banyak yang menyukai metode manual brewing untuk menikmati secangkir kopi. Setiap kedai kopi yang kekinian, tak lengkap rasanya jika tak menawarkan menu kopi dari manual brewing.

Sesuai namanya, manual brewing adalah teknik menyeduh kopi menggunakan alat yang harus dioperasikan secara manual oleh barista. Sang barista harus memiliki pengetahuan manual brewing agar dapat menghasilkan kopi dengan rasa tak kalah enaknya dibanding mesin.

"Kalau dengan mesin, kopi yang dihasilkan kental dan agak sedikit keras. Namun, melalui teknik manual brewing kopi yang dihasilkan lebih lembut dan halus," kata Abrar Fahriansyah dari Aceh Gayo Manual Brewing saat ditemui di sela Festival Kopi Sanger di Banda Aceh, Aceh, Sabtu malam 21 Oktober 2017.

Menurut Abrar, penikmat kopi kini sudah beralih ke cara penyajian menggunakan mesin. Namun, tidak sedikit pula yang bosan dengan kopi buatan mesin yang rasanya selalu monoton.

Dari sinilah, kata Abrar, istilah manual brewing pun muncul untuk membedakan seduhan menggunakan mesin dengan seduhan tangan manusia. Perbedaan itu pun semakin terlihat jelas kala kopi dengan teknik penyajian manual brewing bisa menghasilkan varian rasa kopi arabika yang banyak, seperti aroma rasa kacang-kacangan, rempah, karamel dan buah-buahan.

“Tren sudah mulai ke mesin, untuk manual brewing masih kurang, tapi semakin lama semakin meningkat. Itu ditandai dengan di setiap warung kopi di Aceh mulai ada alat manual brewing,” ujarnya.

Ia menyebutkan, cara penyeduhan menggunakan alat brewing cukup mudah. Dengan menggunakan alat seperti Hario V60, Kalita wafe, chamex, pro over dan alat lainnya. Tentunya ini bisa dilakukan di mana saja.

Di samping itu, komunitas Aceh Gayo Manual Brewing, yang terbentuk sejak Oktober 2016 lalu, sudah mulai aktif melakukan edukasi terkait penyeduhan kopi dengan teknik manual brewing di setiap event yang digelar di Aceh.

“Selain melakukan edukasi terkait kopi arabika, kita juga membuat pameran, perlombaan dan bazar-bazar,” sebut Abrar, yang juga pemilik warung kopi FJ’s ini.