Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 30 Oktober 2017 | 17:54 WIB
  • Makin Tinggi Tingkat Konsumsi Daging, Lingkungan Makin Rusak

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Bimo Aria
Makin Tinggi Tingkat Konsumsi Daging, Lingkungan Makin Rusak
Photo :
  • Pixabay/g3gg0
Memasak daging merah.

VIVA – Permintaan protein yang berasal dari hewan terus bertambah. Menurut data dari World Resource Institute, konsumsi daging di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat hingga 76 persen.

Tingginya konsumsi protein dari daging ini ternyata membawa dampak buruk bagi lingkungan sendiri. Menurut Andy T. Kusumo, PhD, Director of Science & Technology Monde Nissin Singapore, berlebihnya konsumsi daging, terutama di negara-negara maju, membawa dampak yang tidak sebanding dengan manfaatnya.

"Yang terjadi di negara maju itu ada konsumsi berlebih. Jadi produksi tumbuhan itu bukan buat manusia, tapi buat makanan hewan supaya dagingnya dimakan manusia," ungkap Andy saat ditemui di Asian Food Forum di Jakarta Pusat, Senin 30 Oktober 2017.

Andy juga memaparkan bahwa 80 persen dari produksi pangan yang berasal dari tumbuhan justru lebih banyak dialihkan untuk pangan hewan.

"Seperti tadi saya jelaskan 1 kg daging perlu sampai 24 kilogram pangan hewan, bayangin minusnya. Sedangkan kalau untuk menghasilkan Quorn, yang kaya mycoprotein (bahan makanan kaya protein, kaya serat, dan rendah kolesterol yang terbuat dari fungi) cuma butuh 2 kg wheat, kita bisa menghasilkan banyak mycoprotein," kata dia.

Hal ini lebih jauh menimbulkan eksploitasi lahan yang diperuntukkan untuk menyediakan pakan hewan. Ujungnya akan muncul masalah deforestasi (penggundulan hutan) dan masalah lingkungan lainnya.

"Makanya muncul deforestation masalahnya seperti itu, green house dibakar, yang terjadi kemudian mempengaruhi global warming, increase suhu global naik, karena karbonnya di atas. Itu semua untuk memenuhi kebutuhan daging jadi sangat tidak sustainable," kata dia.

Oleh karena itu, Andy ingin, negara-negara Asia dan negara berkembang lainnya, seperti Indonesia, belajar dari masalah yang banyak terjadi di negara maju. Dengan demikian tidak terjebak dan mengalami masalah yang sama.

"Makanya kita coba buat alternatif solusi, kalau kita punya makanan yang rasanya sama kaya daging tapi less impact dari daging, bayangin untuk global apa, healthier, less green house gas," ungkap dia. (ren)