Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 13 November 2017 | 11:06 WIB
  • Bakso Batok Kuwalik, Kuliner Anti-Mainstream Pasar Karetan

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Bakso Batok Kuwalik, Kuliner Anti-Mainstream Pasar Karetan
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto (Semarang)
Bakso Batok Kuwalik.

VIVA – Kuliner bakso dengan sajian mangkuk dari plastik atau keramik terlalu biasa. Di Pasar Karetan Radja Pendapa, Semarang, bola-bola daging sapi itu disajikan dengan cara cukup unik yakni menggunakan mangkuk batok kuwalik atau terbalik.

Dari namanya, sebutan Bakso Batok Kuwalik karena memang penyajian bakso yang memakai batok kelapa sebagai wadah pengganti mangkuk. Uniknya memang mangkuk batok kelapa tersebut dibuat terbalik agar menarik perhatian.

Konsep unik ini diperkenalkan oleh Supiono (47), warga Jatisari, Kota Semarang. Menurutnya, pemilihan batok kelapa sebagai mangkuk bakso ini karena memiliki sisi artistik dan tradisional.

"Sebenarnya saya tak ingin bakso yang saya jual ada unsur bahan plastik dalam wadahnya. Maka ide batok kelapa kuwalik ini saya coba buat," kata Supiono kepada VIVA, Senin, 13 November 2017.

Rupanya Supiono tak sekadar memilih batok kelapa untuk menarik pembeli. Ia menyebut cangkang keras yang telah diambil kelapanya tersebut mampu membuat rasa bakso lebih lezat dibanding menggunakan mangkuk plastik atau kaca.

"Lebih enakan pakai batok kelapa karena ada bekas kelapanya. Jadi bakso lebih gurih, ada ciri khas bau kelapanya cukup kental,” ucapnya.

Selain itu, dipakainya batok kelapa ini juga menjadi inovasi memanfaatkan barang-barang alam yang kerap tak terpakai dan dibuang. Bahkan Supiono juga menggunakan kendi-kendi mini dari gerabah untuk menaruh kecap dan sausnya.

"Cara mencuci mangkuk batok kelapa dan gerabah ini juga khusus, tak pakai sabun. Biasanya saya pakai lemon untuk menghilangkan bau di batok serta gerabah," katanya.

Jangan salah, meski memilih konsep tradisional, bakso buatan Supiono tetap menjaga sisi kesehatan dan kelezatan. Ia sengaja tak menambahkan MSG saat membuat olahan bakso. Bmbu baksonya murni berbahan rempah-rempah.

"Micin itu sebenarnya tak ramah anak. Maka saya perbanyak rempah dan bawang agar aromanya lebih mengena dan maknyus," ujarnya.

Bakso dengan konsep batok kelapa sendiri memang baru diperkenalkan di Pasar Karetan Radja Pendapa di dusun Segrumung, Desa Meteseh, Boja Kendal. Di pasar yang diinisiasi oleh Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah ini, antusias pengunjung mencoba cita rasa dan sensasi makan bakso milik Supiono cukup besar.

Satu porsi bakso dijual denan harga Rp12.500. Namun, membelinya harus memakai uang Girik sesuai konsep dari pasar di bawah Kementerian Pariwisata RI tersebut.

"Alhamdulillah cukup laris. Minggu kemarin 50 porsi habis tapi kurang dan kita tambah. Ke depan saya mau buka di luar dengan konsep seperti ini. Buktinya warga penasaran dan tertarik, " jelas pria yang mengenakan topi petani saat berjualan itu.