Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 21 November 2017 | 10:56 WIB
  • Cerita Unik di Balik Renyahnya Kentang Goreng Belgia

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Putri Firdaus
Cerita Unik di Balik Renyahnya Kentang Goreng Belgia
Photo :
  • VIVA.co.id/Putri Firdaus
Kentang Goreng Belgia

VIVA – Meski berasal dari daratan Eropa, kentang goreng punya tempat di hati para pecinta kuliner di dunia termasuk Indonesia. Satu hal yang perlu diluruskan mengenai kudapan sejuta umat ini ternyata berasal dari Belgia.

Lalu bagaimana cita rasa kentang ini? Sebenarnya tak jauh berbeda. Namun, saat diperkenalkan oleh Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Patrick Herman, secara penampilan kentang ini diiris lebih tebal ketimbang kentang goreng yang umum kita temui di banyak gerai makanan cepat saji. 

"Kalau french fries  biasa itu ukurannya lebih kecil, lebih tipis," ujar Patrick saat ditemui di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Patrick, kentang goreng Belgia menggunakan varietas kentang bernama Bintje. Kentang berbentuk oval ini punya tekstur yang tegas dan tidak berubah warna setelah digoreng yaitu kuning keemasan. 

VIVA berkesempatan mencicipi kentang goreng Belgia yang dimasak sendiri oleh sang Duta Besar. Kentang ini terasa renyah di luar dan lembut di dalam. Rasanya agak mirip seperti singkong. 

Cocolannya beraneka ragam. Mulai dari mayonaise, saus tomat, saus sambal, tar tar hingga kari. Semuanya padu dengan cita rasa kentang ini. 

Sedikit informasi, kentang goreng di Belgia biasanya dijual di kios kecil yang disebut fritkot. Di negara ini, Fritkot termasuk salah satu warisan budaya dunia yang sudah diakui oleh UNESCO. 

Seperempat dari total populasi masyarakat Belgia biasanya menikmati kentang seminggu sekali dan 95 persen mendatangi fritkot minimal satu kali dalam setahun. 

Di Belgia, industri kentang goreng atau frites juga dikelola oleh perusahaan milik keluarga yang diwariskan turun temurun sejak pertanian kentang dimulai di Belgia. 

"Ada banyak usaha keluarga yang bergerak di industri kentang goreng," kata Wouter Trybou, representatif dari Belgapom, Asosiasi Industri Perdagangan dan Pengolahan Kentang Belgia saat ditemui di kesempatan yang sama. 

Tak hanya itu, saking dekatnya dengan kehidupan masyarakat, kentang goreng juga dijadikan atribut demonstrasi oleh para pendemo di Belgia sekitar tahun 2011. 

Begitupun pada 2014, sekelompok demonstran perempuan menyerang Perdana Menteri mereka, Charles Michel dengan kentang goreng dan mayones. Dalam foto yang beredar, sang Perdana Mentri justru tak terlihat marah melainkan tersenyum dengan serangan tersebut.  "Ini bukti betapa dekatnya orang Belgia dengan kentang goreng," ujar Patrick. (mus)