Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 22 November 2017 | 08:38 WIB
  • Legitnya Pisang Aroma, Oleh-oleh Khas Temanggung

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Legitnya Pisang Aroma, Oleh-oleh Khas Temanggung
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
Pisang Aroma, oleh-oleh gaul khas Temanggung

VIVA – Anda yang berwisata di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, jangan pernah lewatkan untuk mencicip kuliner khasnya. Daerah yang dikenal memiliki wisata alam pegunungan ini, kini banyak muncul oleh-oleh gaul yang tentu menggoyang lidah.

Salah satu kuliner khas yang kini nge-hits adalah pisang aroma. Produk makanan ringan yang cocok untuk oleh-oleh ini dikembangkan oleh kelompok usaha mikro kecil menengah dusun Sarangan, desa Gesing, Kecamatan Kandangan.

Dari namanya, pisang aroma memang diolah dengan dominasi rasa asli manisnya pisang. Beda dari olahan pisang lain, pisang aroma dibuat dengan cara tradisional dengan mengandalkan olahan tangan manusia. Pisang aroma juga hanya menggunakan jenis Raja Nangka dan pisang Belitung yang banyak tumbuh di Temanggung.

"Pisang aroma ini berbahan dasar pisang dan adonan tepung yang kita masak manual, " kata Nila Apriliani, salah satu pembuat pisang Aroma, kepada VIVA di Temanggung Jawa tengah.

Ia menjelaskan, untuk membuat pisang ini cukup sederhana. Bahan tepung, air, garam dan minyak dicampur menjadi adonan. Kemudian adonan dimasak dengan cara digoreng satu menit, tanpa menggunakan minyak. 

Nah, proses selanjutnya adonan kulit lalu diisi potongan pisang yang telah masak. Setelah diberi gula, kulit itu kemudian digulung, lalu digoreng. Selain berbentuk panjang, pisang Aroma juga dipotong kecil-kecil.

"Lalu, pisang Aroma digoreng dengan tunggu kayu hingga berubah warna kecokelatan. Setelah matang, air minyak kemudian ditiriskan serta diblower, " katanya. 

Meski diolah secara tradisional, namun tektur olahan pisang aroma cukup menggiurkan. Selain rasa yang legit, pisang aroma memang dimasak untuk dijadikan oleh-oleh serta dijual di kota-kota lain. 

Sri Mulyati selaku pemilik brand pisang aroma menyebut, olahan pisang gaul dan lezat itu dilakukan kali petama pada  2001 silam. Namun, kala itu pemasarannya maih sangat sederhana dengan berkeliling dari rumah ke rumah. Pun olahannya yang belum dikemas secara rapi.

"Setelah itu saya berhenti dan merubah konsepnya dengan berusaha sendirI. Modalnya Rp300 ribu," katanya.

Meski daerahnya sebagai penghasil pisang, namun untuk pisang aroma yang cocok digunakan hanya dua varietas saja, yakni pisang Raja Nangka dan Belitung. "Sehari bisa habis tiga kuintal pisang, " ujar dia. 

Berkar kelezatan dan kemasan yang menarik, produk olahan pisang pun kini dipasarkan ke pusat oleh-oleh di sejumlah daerah. Seperti Jateng, Yogyakarta, Bali, dan Kalimantan. Untuk satu bungkus Pisang Aroma dengan berat 500 gram dijual Rp14 ribu.
 
"Omzet sekarang Rp 500 juta per bulan. Kini, pegawai kita ada 35 orang warga lokal sini. Karena, kami juga ingin berdayakan warga," katanya.