Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 27 November 2017 | 10:48 WIB
  • Nasi Gandul 'Romantis', Cita Rasa Terjaga dengan Daun Pisang

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Nasi Gandul 'Romantis', Cita Rasa Terjaga dengan Daun Pisang
Photo :
  • VIVA/Dwi Royanto
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (kedua dari kanan), di warung nasi gandul 'Romantis' di Kabupaten Pati.

VIVA – Mendengar kuliner nasi gandul tentu semua tertuju pada daerah di pesisir pantai utara Jawa Tengah, yakni Kabupaten Pati. Kuliner legendaris yang kini banyak ditemui di daerah lain itu memang bercita rasa khas dan menggoyang lidah.

Nasi dengan tekstur dominan kuah kecokelatan dan rasa manis serta daging gunting itu memang telah sejak lama. Meski muncul kuliner modern, nasi gandul tetap menjadi primadona warga hingga kini.

Nasi Gandul

Salah satu penjual nasi gandul di Kabupaten Pati, Haji S Sardi, mengaku telah menjual nasi gandul sejak tahun 1979. Meski sempat mengalami masa pasang surut, pria yang membuka warung nasi gandul 'Romantis' itu kini tak pernah sepi pembeli. Mulai dari kalangan warga biasa, artis hingga pejabat tinggi.

"Sudah tiga puluh sembilang tahun kira-kira saya jual nasi gandul. Dulu sempat susah payah, tapi kini alhamdulillah berkah," kata Sardi kepada VIVA pada Minggu, 26 November 2017.

Ihwal penamaan nasi gandul, Sardi menyebut karena sejak awal dagangan nasi berkuah itu dibawa serta dijajakan dengan cara dipanggul mengunakan bambu.

Di ujung ujung bambu itu diikatkan bakul nasi pada satu sisi dan kuali tempat kuah dan daging. Panggulan bambu menimbulkan efek bergoyang (gandul; dalam bahasa Jawa). Nah, orang-orang lalu menyebut makanan itu sebagai nasi gandul.

"Meski saya telah buka warung sendiri, saya tetap menjual keliling dengan memikul di sejumlah tempat," ujar pria 60 tahun tersebut.

Sensasi makan nasi gandul sendiri memang cukup berbeda dibandingkan dengan kuliner nasi umumnya. Penyajiannya wajib menggunakan daun pisang sebagai alas piring bambu. Setelah dikasih kuah berwarna cokelat bertabur rempah, nasi itu dilengkapi pilihan menu, seperti telur pindang, daging atau jerohan yang dipotong-potong dengan gunting.

"Enak lagi kalu nasi gandul dimakan dengan tempe goreng garing," kata pria yang memiliki dua belas karyawan ini.

Mengenai cita rasa nasi gandul sepintas mirip dengan perpaduan soto dan gulai. Namun bedanya tingkat kegurihan rempah dan dominasi manis. Selain itu nasi gandul, santannya tidak terlalu banyak dan cenderung encer.

"Sejak awal nasi gandul harus kuat aroma rempahnya. Utamanya jintan, ketumbar, merica, pala, kemiri dan kayu manis. Ada juga aroma jeruk nipis," kata Sardi.

Warung nasi gandul milik Sardi biasanya ramai saat malam. Bahkan kantong parkir di sekitar warung selalu penuh sesak dengan kendaraan. Pembelinya mayoritas para pejabat dan karyawan perusahaan. Salah satu yang menggandrungi nasi gandul adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Harga nasi gandul bervariasi; bergantung tambahan potongan daging atau telur yang diinginkan. Harga normal nasi gandul Rp18 – 20 ribu per porsi. (hd)