Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 30 November 2017 | 07:47 WIB
  • Kronologi Penyakit yang Diderita Bondan Winarno

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Isra Berlian
Kronologi Penyakit yang Diderita Bondan Winarno
Photo :
  • Facebook: Widia Djatiningrum
Bondan Winarno.

VIVA –Pakar Kuliner Indonesia, Bondan Winarno, meninggal dunia setelah menderita gagal jantung dan komplikasi. Pria yang dulu pernah berprofesi sebagai jurnalis itu meninggal di usia 67 tahun pada pukul 09.05 WIB, Rabu, 29 November 2017.

Sebelum wafat, ternyata ia sempat menuliskan pesan untuk anggota milis komunitas Jalansutra yang berisikan kronologi riwayat penyakitnya. Jalansutra sendiri merupakan suatu komunitas wisata boga yang sangat terkenal di Indonesia. Bondan merupakan pelopor dan ketuanya. Pesan di milis itu lantas dibagikan salah seorang anggota di akun Facebook Jalansutra.

Ketika VIVA menelusuri akun Facebook tersebut, akun bernama Harnaz Tagore membagikan pesan Bondan tertanggal 6 Oktober 2017 pukul 13.19 WIB. Dalam milis itu tertulis bahwa dirinya mulai mengalami sakit sejak tahun 2005 ketikatengah berada dalam penerbangan dari Singapura menuju Jakarta.

Selama perjalanan menuju Jakarta, dirinya merasakan baal atau kesemutan di ujung jari tangan kanannya. Ketika tiba di Soekarno Hatta ia pun langsung menuju ke Rumah Sakit Premier Bintaro. Di RS itu, Bondan langsung menjalani MRI.

Setelah melakukan pemeriksaan MRI, Bondan disarankan observasi di RSP Bintaro selama tiga hari. Kesimpulannya, ahli jantung sangat meyakini dirinya mengalami penyumbatan arteri jantung dan harus menjalani kateterisasi sesegera mungkin. Namun, seorang neurologis di RS yang sama memberikan pendapat yang berbeda. Neurologis itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak menderita penyakit jantung.

Bimbang dengan hal tersebut, Bondan pun mencari second opinion dengan mendatangi Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Di sana ia diberikan kesimpulan yang sama.

"Cardiologist bilang harus kateterisasi segera. Neurologist RSPI juga bilang, bukan masalah jantung. Dalam kebimbangan, saya memilih tidak menjalani kateterisasi, tapi hanya minum Plavix (pil pengencer darah) untuk menghindari penyumbatan arteri," tulis Bondan.

Setahun setelah minum Plavix terus-menerus, diketahui ia nyaris pingsan di rumah Yohan Handoyo yang berada di kawasan Bogor setelah minum wine dan makan steik. Ia pun kemudian dilarikan ke RS Azra di Bogor.

"Dokter jaga yang berpengalaman menemukan diagnosa tekanan darah terlalu rendah karena darah terlalu encer," bebernya.

Sejak saat itu, ia pun memutuskan untuk ke HSC di Kuala Lumpur (KL) untuk pemeriksaan rutin. Di sana dikonfirmasi dengan MSCT bahwa ia memang tidak mengidap penyakit jantung.

Berlanjut, pada April 2015, sewaktu Annual Medex di HSC KL, ditemukan dilatasi (penggembungan) pada aortanya pada tahap awal. Dalam bahasa medis, penyakit ini disebut aorta aneurysm atau penyumbatan aorta, pembuluh darah dari  jantung.

Menurut dokter yang menanganinya, Dr. Soo, penyakitnya ini setiap tahun perlu diawasi apakah membesar dan perlu tindakan operasi. Dokter itu pun memberi tau Bondan bahwa dirinya  seperti membawa bom waktu yang setiap saat bisa pecah dan mematikannya.

"Dr. Soo juga mengaku bahwa dia bukan ahlinya di bidang aneurysm. Bila perlu pembedahan, dia harus mengundang dokter bedah dari Jepang. Biaya diperkirakan Rp600-Rp700 juta," paparnya.

Akhirnya pada April 2016, ia memutuskan untuk menjalani opini yang diberikan oleh Dr. Soo. Namun, pada saat itu pula, dokter yang menanganinya itu dilarikan ke RS untuk operasi.

"Team dokter yang menangani saya tidak memuaskan saya dalam memberi info tentang aneurysm saya," ujarnya.

Ia pun mengatur jadwal kembali pada April tahun 2017 dengan Dokter Soo. Namun, sayang dokter tersebut mendadak sakit. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Dr. Sindhi mengenai penyakit aneurysm-nya.

Pada Juli 2017, Dr. Sindhi mengantarnya ke RS Siloam Karawaci dan sudah membuat appoitment untuk bertemu dengan Dr. Iwan Dakota, ahli vaskuler.

Dalam pemeriksaan Dr. Iwan, setelah memeriksa hasil medical record terakhir di HSC KL, Dr. Iwan menemukan masalah lain, yakni bocornya katup aorta. Ia diminta untuk segera ke PJN Harapan Kita dan keesokan harinya melakukan pemeriksaan echo.

Dalam pemeriksaan echo di RS Harapan Kita, 65 persen terkonfirmasi bahwa katup aortanya bocor. Ia kemudian menjalani TEE (endoscopy) untuk mendapatkan 90 persen konfirmasi. Demikianlah, dalam waktu singkat tim dokter RS itu menemukan kelainan lain yang perlu segera ditangani.

Dr. Iwan menyampaikan kepada tim bedahnya, Dr. Dicky Alighiery Hartono, ahli bedah vaskular lulusan Korea Selatan. Ia memaparkan bahwa ini adalah pembedahan paling berat, rumit, dan sulit, yang berlangsung 5-6 jam.

"’Mumpung Pak Bondan sedang fit, kita lakukan segera, ya?’" kata Bondan menirukan ucapan dokternya.

Ia pun membeberkan kembali, di tanggal 27 September 2017 lalu, ia menjalani dua operasi sekaligus yakni penggantian katup aorta dan penggantian aorta yang mengalami dilatasi.

Operasi berlangsung selama 5 jam dan dinyatakan berhasil. Ia siuman di ICU sore hari dan dirawat selama 24 jam di ICU. Dari ICU, ia dipindah ke Intermediary Ward. Normalnya, bila operasi berhasil, 24 jam sesudah di Intermediary Ward, maka dirinya dipindahkan ke kamar perawatan biasa.

Ia berujar, dalam operasi besar seperti yang dijalaninya, ada dua hantu komplikasi, yakni perdarahan, dan aritmia (denyut jantung tidak beraturan).

"Saya terbebas dari perdarahan. Tapi, Sabtu dini hari saya kejang-kejang dalam tidur saya. Ternyata saya mengalami komplikasi aritmia. Saya dipasangi TPM (Temporary PaceMaker) sambil dimonitor penyebabnya (biasanya karena peradangan)," bebernya.

Karena setelah 72 jam tidak tampak progress dari TPM. Selasa siangnya, Dr. Dicky memutuskan untuk memasang TPM lain di pangkal pahanya

Keajaiban terjadi pada Selasa malam. Ketika perawat sedang mempersiapkannya untuk didorong ke kamar operasi, tiba-tiba denyut nadinya berirama kembali. Operasi dibatalkan.

"Saya lega setengah mati," kata Bondan.

Berikut ini paparan lengkap kronologis yang ditulis Bondan di Facebook Jalansutra.

Keluarga JS-ku,

Mohon maaf bila selama beberapa hari ini saya menyembunyikan sebuah rahasia besar dari Anda semua.

Saya ceritakan sejak latar belakangnya.

1. Th 2005, dlm penerbangan SIN-JKT, saya merasakan ujung2 jari tangan kanan saya ba'al alias kesemutan. Begitu mendarat di CGK, saya telepon minta advis Dr. Sindhiarta Mulya. Saya disarankan segera menuju RS yg dkt dgn rumah saya untuk menjalani pemeriksaan MRI. Krn waktu itu saya masih tinggal di Bintaro, saya lgsg ke RS Premier Bintaro. Eh, ternyata Dr. Sindhi sudah menunggu saya di sana. Setelah MRI, saya disarankan observasi di RSP Bintaro selama 3 hari. Kesimpulan: cardiologist strongly suspected penyumbatan arteri jantung dan saya harus menjalani kateterisasi sesegera mungkin. In contrary, neurologist di RS yg sama mengatakan bahwa yg saya alami sama sekali bukanlah penyakit jantung.

2. Saya mencari second opinion di RSPI. Kesimpulan sama: cardiologist bilang harus kateterisasi segera. Neurologist RSPI juga bilang: bukan masalah jantung.

3. Dalam kebimbangan, saya tidak menjalani kateterisasi. Saya hanya minum Plavix (pil pengencer darah) untuk menghindari penyumbatan arteri.

4. Setahun setelah minum Plavix terus-menerus, saya nyaris pingsan di rumah Yohan Handoyo setelah minum wines dan makan steaks masakan Adi Taroe. Untung rumah Yohan di Bogor itu dekat dgn RS Azra. Dokter jaga yg berpengalaman menemukan diagnosa: tekanan darah terlalu rendah krn darah terlalu encer.

5. Sejak saat itu saya ke HSC di KL utk annual check up. Di sana dikonfirmasi dgn MSCT bahwa saya memang tidak mengidap penyakit jantung.

6. April 2015, sewaktu Annual Medex di HSC KL, ditemukan dilatasi (penggembungan) pada aorta saya pada tahap awal. Dlm bhs medis, penyakit ini disebut: aorta aneurysm. Menurut Dr. Soo, tiap tahun perlu diawasi apakah membesar dan perlu tindakan operasi. Katanya: saya spt membawa bom waktu yang setiap saat bisa pecah dan mematikan saya. Dr. Soo juga mengaku bahwa dia bukan ahlinya di bidang aneurysm. Bila perlu pembedahan, dia harus mengundang dokter bedah dari Jepang. Biaya diperkirakan Rp 600-700juta.

7. April 2016, saya sudah appointment dgn Dr. Soo di HSC KL. Tapi pas hari itu justru dia dilarikan ke RS utk operasi. Team dokter yang menangani saya tidak memuaskan saya dlm memberi info ttg aneurysm saya.

8. April 2017, saya appointment lagi utk konsultasi dgn Dr. Soo. Eh, ternyata dia mendadak sakit. Saya lgsg jalan2 ke tempat adik saya di Penang. Di sana saya mengalami semacam pencerahan. "Kenapa saya pasrahkan masalah kesehatan saya kpd orang yg bukan ahlinya?" Dr. Soo adalah salah satu ahli kateter di Asia, tapi bukan ahli aneurysm. Saya segera berkomunikasi dgn Dr. Sindhi yg lgsg saja membanjiri saya dgn berbagai info bagus dan penting. Saya putuskan untuk mengikuti saran Dr. Sindhi.

9. Bulan Juli 2017, saya jalan2 seharian dgn Dr. Sindhi di sktr Tangerang, diakhiri dgn maksi kuliner Betawi di Mpok Kuni. Eh, ternyata Dr. Sindhi mengantar saya ke RS Siloam Karawaci dan sdh membuat appointment utk ketemu Dr. Iwan Dakota, ahli vaskuler, adik Kapolri Tito Karnavian. Saya bahkan disambut oleh Dirut RS Siloam Karawaci, sahabat Dr. Sindhi.

10. Dlm pemeriksaan oleh Dr. Iwan, setelah memeriksa hasil medical record terakhir di HSC KL, HANYA dgn stetoskop, Dr. Iwan menemukan masalah lain: katup aorta saya bocor. Saya diminta utk segera ke PJN Harapan Kita keesokan harinya utk pemeriksaan echo. Dlm pemeriksaan echo di Harkit, 65% confirmed bahwa katup aorta saya bocor. Saya kemudian menjalani TEE (endoscopy) utk mendapatkan 90% konfirmasi. Demikianlah, dlm waktu singkat tim dokter Harkit menemukan kelainan lain yg perlu segera ditangani.

11. Dr. Iwan me-refer saya kpd tim bedahnya, Dr. Dicky Alighiery Hartono, ahli bedah vaskular lulusan Korsel. Ini adalah pembedahan paling berat, rumit, dan sulit, berlangsung 5-6 jam. "Mumpung Pak Bondan sdg fit, kita lakukan segera, ya?"

12. 27 Sept 2017 pagi saya menjalani 2 operasi sekaligus: penggantian katup aorta dan penggantian aorta yang nengalami dilatasi. Operasi berlangsung selama 5 jam dan dinyatakan berhasil. Saya siuman di ICU sore hari dan dirawat selama 24 jam di ICU. Dari ICU saya dipindah ke Intermediary Ward.

13. Normalnya, bila operasi berhasil, 24 jam sesudah di Intermediary Ward, maka akan dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Dalam operasi besat spt yg saya alami, ada 2 hantu komplikasi: 1. perdarahan, 2. aritmia (denyut jantung tidak beraturan). Saya terbebas dari perdarahan. Tapi, Sabtu dini hari saya kejang2 dlm tidur saya. Ternyata saya mengalami komplikasi aritmia. Saya dipasangi TPM (Temporary PaceMaker) sambil dimonitor penyebabnya (biasanya krn peradangan).

14. Utk aritmia ini, saya ditangani Dr. Dicky Hanafy, lulusan Jerman. Krn setelah 72 jam tidak tampak progress dari TPM, Selasa siang Dr. Dicky memutuskan utk memasang TPM lain di pangkal paha. Terus terang, saya ketakutan

15. Miracle happens. Selasa malam, ketika perawat sdg mempersiapkan saya utk didorong ke kamar operasi, tiba2 denyut nadi saya berirama kembali. Operasi dibatalkan. Saya lega setengah mati.

16. Demikianlah, kejadian demi kejadian telah saya alami. Untuk sementara saya belum dapat dijenguk di Intermediary Ward. Tapi, bila keadaan membaik, Jumat ini saya akan dipindah ke kamar perawatan. Tempatnya terlalu kecil utk Anda menjenguk.

Karena itu, sambil GR akan banyak yg menjenguk saya, saya sudah mengatur tempat di lobby Wisma Fits, di dalam kompleks RSIB dan PJN Harapan Kita untuk 1 sesi bezoeksutra Minggu, 8 Oktober pk 13-15 untuk 10 orang.

Mohon mendaftar ke Lidia Tanod dan Harry Nazarudin utk mengatur kunjungan. Di luar waktu tsb, mohon maaf, tidak dapat saya terima.

Mohon doa Anda semua agar pemulihan saya tuntas dan lancar.