Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 17 November 2017 | 13:35 WIB
  • Jak-ROP, Skrining Keliling Cegah Kebutaan Bayi Prematur

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Adinda Permatasari
Jak-ROP, Skrining Keliling Cegah Kebutaan Bayi Prematur
Photo :
  • VIVA.co.id/Andri Mardiansyah
Ilustrasi bayi prematur

VIVA – Pada tahun 2010, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth menempatkan Indonesia di urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Bayi prematur diketahui menjadi penyumbang terbesar angka kematian bayi dan cacat fisik.

Salah satu risiko gangguan fisik yang dialami bayi prematur adalah Retinopati Prematuritas atau Retinopathy on Prematurity (ROP). Karena itulah, setiap bayi dengan kondisi lahir prematur yaitu berat kurang dari 1.500 gram atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu, wajib melakukan skrining ROP.

Spesialis mata anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof. dr. Rita Sitorus, SpM(K), PhD menekankan pentingnya penanggulangan kebutaan pada bayi dan anak. Karena bayi yang terlahir buta atau menjadi buta setelah menjadi anak-anak, memiliki waktu hidup dengan kebutaan yang lebih lama dibandingkan kebutaan pada usia dewasa.

Pentingnya deteksi ROP pada bayi prematur kemudian mencetuskan program Jak-Rop. Program yang dicanangkan oleh RSCM bersama dengan Standard Chartered ini merupakan program jemput bola yang mendatangi rumah sakit-rumah sakit di Jakarta dengan membawa alat kamera retina mobile.

Dengan alat ini, bayi-bayi prematur di rumah sakit bisa menjalani pemeriksaan. Dari gambar yang didapatkan akan dikirim langsung ke dokter spesialis mata di RSCM untuk dievaluasi mengenai keadaan ROP-nya.

"Dari data RSCM sebagai rumah sakit rujukan dari tahun 2011-2014, telah menerima kasus rujukan bayi prematur dari Jakarta maupun luar Jakarta, dan 66 persen dari bayi itu sudah mengalami ROP stadium lanjut," ujar Rita saat konferensi pers peluncuran Jak-ROP di RSCM Kiara, Jakarta, Jumat, 17 November 2017.

Hal ini menunjukkan bahwa ada kendala di luar yang menyebabkan banyak bayi prematur sudah mengalami ROP di stadium lanjut. Padahal, stadium lanjut sudah berpotensi untuk alami kebutaan dan tidak bisa diperbaiki lagi.

Jak-ROP untuk saat ini akan dikirim ke lima rumah sakit umum di Jakarta, yakni RS Budhi Asih, RS Koja, RS Pasar Rebo, RS Tarakan, dan RSCM.

"Masih banyak orangtua yang menunggu-nunggu, nanti saja kalau sudah besar padahal kalau sudah lewat 42 minggu sudah terjadi kelainan dan stadiumnya tinggi. Dalam periode tertentu harus dilakukan skrining secara ketat dan berkali-kali," lanjut Rita.

Jak-ROP cegah kebutaan bayi prematur