Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 18 November 2017 | 08:00 WIB
  • Sering Pamer Cara Asuh Anak di Medsos Tanda Narsis?

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Adinda Permatasari
Sering Pamer Cara Asuh Anak di Medsos Tanda Narsis?
Photo :
  • Pixabay/pexels
Ilustrasi instagram

VIVA – Belakangan, semakin banyak ibu-ibu muda kerap menampilkan foto-foto lucu anak mereka di media sosial. Bukan sekadar pose menggemaskan mereka ketika bermain, tapi juga apa yang mereka makan, pakai, mainan yang digunakan, hingga bagaimana mereka dirawat setiap harinya.

Hal ini pun memunculkan fenomena baru di kalangan ibu-ibu 'millennial' untuk seolah saling berlomba memperlihatkan apa yang mereka berikan kepada buah hati tercinta. Benarkah ada gejala sosial yang memengaruhi hal ini?

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada Sunyoto Usman menilai fenomena ini bukanlah hal baru di masyarakat. Ia melihat hal serupa sudah terjadi sejak lama di mana kalangan ekonomi menengah atas ingin menunjukkan atau menegaskan status sosial mereka.

"Bahwa mereka dari kalangan yang berada yang punya pola berbeda dalam mendidik anak, menunjukkan keberhasilan mereka," ujar Sunyoto saat berbincang dengan VIVA di Jakarta.

Sunyoto kemudian menyebut bahwa fenomena ini sebagai bagian dari narsisme. Yakni keinginan mencari kepuasan diri dengan menunjukkan bahwa mereka lebih berhasil dibandingkan kebanyakan orang yang lain.

Terlebih dengan keberadaan media sosial yang menjadi sarana bebas bagi mereka untuk mengekspresikan apapun. Mereka, kata Sunyoto, bisa bebas mengunggah keberhasilan dan status mereka. Bahwa mereka berbeda dengan yang lain.

Meski demikian, Sunyoto menampik fenomena ini akan memengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Menurutnya, orang-orang seperti ini hanya akan menarik kelompok yang memang memiliki kesamaan dengan mereka.

"Ya kurang lebih akan dilihat oleh mereka yang punya kesamaan, sama-sama punya keinginan untuk menunjukkan keberhasilan dan status mereka," lanjutnya.

Sedangkan kelompok lainnya, yang konvensional akan merasa malu untuk menunjukkan apa yang terjadi di dalam rumah mereka kepada publik.

"Kelompok yang itu saja, tidak akan memengaruhi yang lain. Kalau kalangan yang agamanya kuat tentu dia akan mengikuti yang sesuai dengan keyakinannya, yang lebih bersifat religius," katanya.