Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 20 November 2017 | 17:01 WIB
  • Anak Sehat Bukan Hanya Dilihat dari Berat Badan Saja

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Adinda Permatasari
Anak Sehat Bukan Hanya Dilihat dari Berat Badan Saja
Photo :
  • pixabay/Adinavoicu
Ilustrasi anak gemuk

VIVA – Tumbuh dan kembang anak menjadi dua faktor penting yang harus dioptimalkan sejak dini. Keduanya oun merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Pertumbuhan anak berkaitan dengan ukuran tubuh yang dalam jangka panjang membentuk anak yang sehat. Setelah tumbuh, ada perkembangan yang merupakan kemampuan melihat, mendengar, dan motorik kasarnya. Dalam jangka panjang, perkembangan yang sehat menentukan kualitas hidup yang baik, anak cerdas, dan performa bagus.

Semua faktor ini penting dalam menciptakan anak yang cerdas dan sehat. Namun, seringkali orangtua hanya melihat indikator anak yang tumbuh sehat hanya lewat berat badannya saja.

Padahal, Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) mengatakan, berat badan bukan satu-satunya yang penting dalam pertumbuhan anak. Tapi, dalam jangka panjang, tinggi badan dan lingkar kepala juga menjadi bagian penting pertumbuhan anak.

"Tinggi badan tidak sesuai usia, membuat anak mengalami perawakan pendek atau short stature. Ada pengaruh jangka panjangnya kesehatan dan pengaruh langsung pada kecerdasannya," jelas Wawan saat media workshop Frisian Flag Gerak 123 di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin 20 November 2017.

Perawakan pendek ini, lanjut Wawan, dapat dikenali melalui kurva universal yang dikeluarkan oleh WHO. Dalam kurva tersebut dikatakan bahwa jika titik tinggi badan di bawah garis merah minus 2, maka dinamakan short stature.

Ada beragam penyebab perawakan pendek atau short stature ini, yang meliputi malnutrisi, keturunan atau genetik, infeksi, dan lain-lain.

"Kalau penyebabnya malnutrisi, barulah dikatakan stunting," imbuh Wawan. Estrogen telah dikaitkan dengan kanker prostat, karena jika terpecah senyawa  sampingannya menjadi 'genotoksik',  kata Dr. Zhang. 

Itu berarti mereka dapat merusak informasi genetik di sel prostat Anda, yang mungkin menyebabkan mutasi penyebab kanker. Namun periset perlu menyelidiki lebih dalam mengapa kaitan itu hanya terlihat pada kasus prostat ataukah dapat terjadi pada kanker prostat pada umumnya.  

"Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan pada topik pada umumnya untuk mengkonfirmasi kaitan tersebut," kata Dr. Zhang 

Lebih lanjut Zhang mengungkapkan bahwa pada populasi yang lebih beragam di mana orang cenderung makan lebih banyak kedelai. Nemun yang terpenting adalah angka asupan kedelai perharinya.

Jadi haruskah Anda khawatir an berhenti konsumsi kedelai? Ternyata Zhang mengatakan bahwa Anda tidak perlu terlalu khawatir.