Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 22 November 2017 | 10:58 WIB
  • Cegah Kebutaan, Bayi Lahir Prematur Wajib Skrining ROP

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Adinda Permatasari
Cegah Kebutaan, Bayi Lahir Prematur Wajib Skrining ROP
Photo :
  • Pixabay/sheldoni
Ilustrasi ibu dan bayi.

VIVA – ROP atau Retinopathy of Prematuritas, disebut juga dengan Retinopati Prematuritas, adalah perkembangan abnormal pembuluh darah selaput jala atau retina mata, yang dijumpai pada bayi prematur. Masalah ini terjadi, karena mata dan sebagian besar organ tubuh pada  bayi prematur belum matang sempurna.

Kondisi inilah yang mendorong bayi prematur harus melakukan skrining ROP. Meski begitu, pemeriksaan ROP harus dilakukan berdasarkan rekomendasi dari dokter anak yang menangani bayi.

"Skrining tergantung dari kondisi kesehatan, bayi prematur itu kondisinya tidak stabil, bisa sesak napas, biru atau kuning. Dokter anak kemudian yang menentukan boleh atau tidak skrining, karena skrining bukan sesuatu yang sederhana," ujar dokter spesialis mata anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. dr. Rita Sitorus, SpM(K), PhD saat ditemui VIVA beberapa waktu lalu di Jakarta.

Selain itu, menurut Kelompok Kerja Nasional Bayi Prematur, ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat bayi prematur harus dilakukan skrining. Yaitu usia kehamilan kurang atau sama dengan 34 minggu, berat badan kurang atau sama dengan 1500 gram. Atau, di luar ketentuan tersebut ada juga faktor risiko lain yang harus diwaspadai, seperti adanya penyakit yang ditetapkan oleh dokter anak, misalnya sepsis atau infeksi, tranfusi darah berulang, atau pemakaian oksigen lebih dari satu minggu.

Setelah dilakukan pemeriksaan, maka akan diketahui apakah bayi memiliki ROP dan seberapa parah kondisi yang dialami. Dokter mata kemudian menentukan apakah bayi memerlukan perawatan atau tidak. Meski tidak memerlukan perawatan, bukan berarti bayi dibiarkan begitu, melainkan tetap dilakukan pemeriksaan secara berkala hingga mencapai usia aman yaitu 42 minggu.

"Sayangnya, masih banyak ibu-ibu yang berpikir periksanya nanti saja, sampai sudah lewat 42 minggu," ujarnya menambahkan.

Padahal, ROP yang tidak tertangani bisa berisiko terjadi komplikasi seperti lepasnya lapisan retina, rabun jauh, mata juling, mata malas, glaukoma, bahkan hingga kebutaan.

"Kalau ditemukan dan termasuk golongan ROP yang perlu terapi, langsung diterapi, jangan ditunggu-tunggu. Bahkan ada keadaan sangat emergensi yaitu tipe yang disebut APROP, harus ditindak dalam 2 atau 3X24 jam, kalau tidak prosesnya agresif cepat, lebih cepat buta," ujarnya menjelaskan.

Bentuk terapi yang diberikan pada ROP tergantung dari kondisinya. Rita menjelaskan, ada tiga opsi terapi yaitu laser, penyuntikan obat, atau oeprasi. Jika ringan, mungkin saja terapinya berupa laser.

Jika sudah lanjut atau stadium 4, operasi bedah retina menjadi opsinya. Tapi, jika sudah masuk ke staidum 5, sudah tidak bisa dilakukan terapi apapun. "Semakin tinggi stadiumnya, semakin mahal, dan kesempatan pulih fungsi matanya semakin rendah.” (mus)

  • Jak-ROP, Skrining Keliling Cegah Kebutaan Bayi Prematur
    Jak-ROP, Skrining Keliling Cegah Kebutaan Bayi Prematur
  • Gunakan Terapi Kanguru dalam Merawat Bayi Prematur
    Gunakan Terapi Kanguru dalam Merawat Bayi Prematur
  • Faktor Penyebab Bayi Terlahir Prematur
    Faktor Penyebab Bayi Terlahir Prematur
  • Bayi Prematur Lebih Pintar Saat di Bangku Sekolah?
    Bayi Prematur Lebih Pintar Saat di Bangku Sekolah?
  • Rahim Buatan Pengganti Inkubator untuk Bayi Prematur
    Rahim Buatan Pengganti Inkubator untuk Bayi Prematur
  • Cara Menghitung Usia dan Perkembangan Bayi Prematur
    Cara Menghitung Usia dan Perkembangan Bayi Prematur