Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 24 November 2017 | 05:44 WIB
  • Studi: 88 Persen Anak Marah pada Perselingkuhan

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Diza Liane Sahputri
Studi: 88 Persen Anak Marah pada Perselingkuhan
Photo :
  • instagram.com/shafaharris
Shafa saat melabrak Jennifer Dunn.

VIVA – Kasus seorang anak melabrak wanita yang diduga selingkuhan dari sang ayah, sedang hangat diperbincangkan. Ternyata, secara psikis, kasus perselingkuhan memberi dampak traumatis pada anak.

Dilansir dari laman Kind Red Media, penulis buku Parents Who Cheat, Ana Nogales PhD, menuturkan dampak perselingkuhan berbeda pada tiap anak di usianya. Terlebih, adanya tekanan dari lingkungan, memberi dampak sakit yang berlebihan, termasuk perasaan terkhianati.

Lebih dari 800 anak yang tumbuh dengan melalui kasus perselingkuhan orangtuanya, memberi respons dalam survei online Parents Who Cheat. Hasilnya, 88,4 persennya merasakan amarah terhadap orangtua yang selingkuh.

Selain itu, 62,5 persen merasa malu. Parahnya, 80 persennya merasa bahwa kasus perselingkuhan memengaruhi sikapnya dalam menjalin hubungan percintaan. Bahkan, 70 persennya mengatakan, kesulitan memercayai orang lain usai mengalami kasus perselingkuhan.

Survei tersebut menunjukkan bahwa anak akan merasa dikhianati seperti orangtuanya yang dikhianati pasangannya. Banyak anak-anak yang akhirnya mengalami ketakutan bahkan mimpi buruk usai kasus perselingkuhan terjadi.

Alasan tersebut menjadi dorongan kuat seorang anak melakukan hal-hal yang tidak biasa, demi mendapatkan perhatian orangtuanya kembali. Bahkan, mereka, para anak korban perselingkuhan orangtua, tidak segan melakukan hal yang berisiko tinggi untuk mendapatkan kasih sayang kembali.

Sikap yang berisiko tinggi ini bisa berdampak bahaya pada anak yang melakukannya. Selain itu, Ana Nogales menjelaskan, kasus perselingkuhan orangtua itu akan membekas pada anak selama bertahun-tahun dan meninggalkan dampak psikologis yang tersembunyi. (ase)