Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 18:37 WIB
  • Orangtua Anti Vaksin, Perlu Tahu Fakta Penting Imunisasi

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti
Orangtua Anti Vaksin, Perlu Tahu Fakta Penting Imunisasi
Photo :
  • ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra
Pemberian Vaksin Campak Rubella

VIVA – Belakangan, semakin banyak orangtua yang memilih untuk tidak memberikan buah hatinya imunisasi. Mereka yakin, Air Susu Ibu, atau ASI cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh si kecil.

Namun, baru-baru ini, Kementerian Kesehatan RI mengungkap, kasus difteri dalam status kejadian luar biasa (KLB). Ini terjadi disinyalir, karena semakin banyaknya orangtua yang anti vaksin.

Spesialis Anak, dr Lucy Amelia SpA mengungkapkan, imunisasi sebenarya diberikan untuk buah hati bukan tanpa tujuan. Tubuh butuh pertahanan dan imunisasi bisa membantu memperkuat pertahanan tubuh melawan penyakit.

"Tubuh harus tahu kuman apa yang masuk ke tubuh, bukan berarti ASI saja cukup. Tetapi, imuniasi yang spesifik harus tetap diberikan," katanya, saat tampil di acara Ayo Hidup Sehat di tvOne, Kamis 7 Desember 2017.

Kebanyakan orangtua, kata dr Lucy, sudah merasa imunisasi untuk anak sudah lengkap saat terakhir kali vaksin campak diberikan pada usia sembilan bulan. Padahal, masih ada lagi beberapa imunisasi spesifik yang perlu diberikan untuk buah hati agar pertahanan tubuh anak semakin kuat.

Selain imunisasi spesifik masih ada lagi boosternya. Bahkan, saat usia lima tahun ada sejumlah vaksin yang harus diberikan lagi untuk anak dan diulang kembali pemberian vaksin difteri dan campak.

"Banyak juga ibu yang bilang, lupa imunisasi apa aja, padahal mengingat itu penting banget. Kalau imunisasi ada yang terlewat kita lanjutkan sesuai usianya, jangan takut kalau telat dimarahi dokternya."

Masalah lain yang menyebabkan difteri mewabah, kata Lucy, karena banyaknya gembar-gembor dari para orangtua yang anti vaksin yang menyebarkan isu bahwa vaksin dan imunisasi bisa menyebabkan anak autis, kejang hingga mengalami masalah kesehatan lainnya.

"Imunisasi memang bisa kontra, tetapi kalau cuma demam, batuk, pilek sebenarnya anak pun tidak apa-apa diimunisasi. Tapi kadang-kadang kita takut, jadi ditunda hingga terlewat."

"Kalau sudah kelewatan, kita beri outbreak respons imunisasi. Saat usia masih di bawah tujuh tahun, biasanya kita beri imunisasi juga tapi jenis vaksinya beda." (asp)

  • Tak Hanya di Indonesia, Difteri jadi Perhatian Serius Dunia
    Tak Hanya di Indonesia, Difteri jadi Perhatian Serius Dunia
  • Hati-hati, Gejala Difteri Mirip Infeksi Amandel
    Hati-hati, Gejala Difteri Mirip Infeksi Amandel
  • Antitoksin dan Antibiotik untuk Penderita Difteri
    Antitoksin dan Antibiotik untuk Penderita Difteri
  • Difteri Mewabah, Belasan Warga Bekasi Positif Terjangkit
    Difteri Mewabah, Belasan Warga Bekasi Positif Terjangkit
  • Setahun 318 Kasus Difteri di Jatim, 12 Anak Meninggal Dunia
    Setahun 318 Kasus Difteri di Jatim, 12 Anak Meninggal Dunia
  • Difteri Mewabah, 66 Persen Penderita Ditemukan Tak Imunisasi
    Difteri Mewabah, 66 Persen Penderita Ditemukan Tak Imunisasi