Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 8 Agustus 2017 | 14:54 WIB
  • Terungkap Kembang 'Impor' di Balik Festival Bunga Tomohon

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Agustinus Hari (Manado)
Terungkap Kembang 'Impor' di Balik Festival Bunga Tomohon
Photo :
  • ANTARA/ Fiqman Sunandar
Festival Bunga Tomohon 2012 lalu

VIVA.co.id - Festival Internasional Bunga Tomohon tahun 2017 dituding paling karut-marut sejak kali pertama digelar pada 2006. Ajang internasional yang digadang-gadang menyaingi festival serupa di Pasadena, Amerika Serikat, itu diwarnai sejumlah masalah: gagal panen, dugaan kolusi, sampai tengara bunga dipasok dari luar Tomohon.

Beberapa petani bunga di kota yang terletak di kaki Gunung Lokon itu menguak sedikit demi sedikit sejumlah masalah sebelum festival itu digelar pada 8-12 Agustus. Misalnya, beberapa petani yang tak sanggup memenuhi target pesanan bunga dari panitia dan masa panen tak tepat waktu.

Petani bunga di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Alex Mongdong (48 tahun), seorang petani bunga, mengaku menerima pesanan dari panitia sebanyak sepuluh ribu tangkai bunga krisen tapi dia hanya sanggup memenuhi tujuh ribu tangkai. 

Alex memiliki dua rumah kasa atau screen house--satu di antaranya sudah penuh ribuan kuntum bunga yang sudah mekar sementara yang lainnya belum. Bunga-bunga yang sudah mekar dan lewat masa panen dipastikan berguguran saat puncak gelaran festival. Sementara yang belum mekar tentu tak siap dipanen sehingga dipastikan tak dapat diikutsertakan dalam festival.

Rumah kasa kedua, Alex berterus terang, alih-alih telah lewat masa panen, justru gagal panen. Dia berdalih, cuaca buruklah penyebabnya. “Karena pengaruh hujan, makanya memang gagal panen."

Fredy Liuw, petani lain di Kelurahan Kakaskasen III, Kecamatan Tomohon Utara, berpendapat berbeda. Dia menuding mereka yang gagal panen sesungguhnya tak mengerti dan tak berpengalaman merawat bunga. Dia bahkan menuding, "Rata-rata petani itu yang dekat dengan pemerintah, lalu diberikan bantuan untuk menanam bunga. Makanya gagal panen.”

Tak serius

Pemerintah Kota Tomohon mengaku luput mengantisipasi kendala-kendala seperti itu. Namun panitia sebenarnya sudah merencanakan festival itu dengan melibatkan 34 kelompok tani untuk memenuhi kebutuhan ratusan ribu kuntum bunga.

Saat rapat evaluasi dua pekan sebelumnya, memang dilaporkan ada sepuluh kelompok tani yang mengalami gagal panen atau tak sanggup memenuhi total pesanan. Rata-rata masalahnya adalah faktor pemeliharaan.

“Mereka mengalami kegagalan karena tidak serius memelihara itu, sehingga mengalami gangguan karat daun dan tidak berproduksi,” kata Vonny Pontoh, Kepala Dinas Pertanian Kota Tomohon, pada 1 Agustus 2017.

Petani bunga di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Dinas Pertanian, kata Vonny, sebenarnya sudah mendampingi para petani dan memberikan zat perangsang pertumbuhan bunga. “Tetapi dari awal memang ada beberapa (petani) yang tidak serius mengerjakan itu," katanya.

Kekurangan bunga yang mestinya disuplai petani itu, menurut Vonny, ditutupi beberapa pelaku usaha atau florist yang menanam bunga sendiri dengan jumlah yang cukup besar. Mereka menyokong kekurangan pasokan bunga ketika yang beberapa yang lain gagal panen. 

Kebutuhan bunga untuk festival yang diikuti perwakilan delapan negara itu ditaksir mencapai 154 ribu tangkai kembang krisan--hanya untuk kendaraan hias atau float. Pemerintah memiliki data bahwa bunga-bunga yang ditanam para petani mencapai 400 ribu kuntum. Ditargetkan 200 ribu kuntum dipanen untuk kebutuhan festival itu, sehingga 

“Sehingga kalau dihitung dengan kebutuhan 154 ribu, ada surplus 36 ribu (sebetulnya 46 ribu bunga,” kata Vonny, dalam kesempatan lain.

Bunga ‘impor’

Desas-desus bahwa pasokan bunga di Tomohon tak cukup melimpah sebetulnya telah berembus sejak festival itu kali pertama dihelat pada sebelas tahun silam. Pasokan bunga lokal tak cukup untuk kebutuhan festival internasional itu. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun disuplai dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

Netty Karundeng (55 tahun), penjual bunga, mengaku memasok bunga untuk ajang festival itu setiap tahun. Namun bunga-bunganya tak hanya dipasok dari petani lokal, melainkan dari daerah lain di luar Tomohon, di antaranya, Cipanas, Bogor, Jawa Barat; dan Surabaya serta Batu (Jawa Timur).

“Bahkan kalau bisa dihitung, lima puluh persen dari luar (Kota Tomohon). Kami setiap pasok bunga ke TIFF (Tomohon International Flower Festival), jadi tahu persis,” kata Netty saat ditemui di Kios Tirza miliknya pada Jumat pekan lalu.

Bunga asal Tomohon untuk Festival Internasional Bunga Tomohon 2017.

Pasokan bunga di Tomohon, kata Netty, memang tak cukup untuk kebutuhan festival internasional itu. Contoh, pasokan bunga krisan yang sebenarnya kurang jika hanya mengandalkan pasokan lokal, sehingga terpaksa membeli dari luar yang harganya bahkan lebih murah. Bunga krisan lokal dihargai Rp10.000 per tangkai, sementara bunga serupa dari luar Tomohon seharga Rp5.000 per tangkai.

Ia menceritakan keluarga besarnya, Karundeng Angouw, adalah penjual bunga mula-mula di Kota Tomohon. “Ibu saya Nelly Angouw jual bunga sejak zaman Permesta. Kami sepuluh bersaudara, enam di antaranya meneruskan jejak ibu kami sebagai penjual bunga. Jadi keluarga besar kami memang hidup dari bunga,” kata Netty.

Dibantah

Wali Kota Jimmy F Eman membantah ada bunga yang masuk dari luar daerah untuk pelaksanaan TIFF. Dia menegaskan semua bunga dipasok oleh petani lokal Tomohon. "Tidak ada bunga dari luar," katanya saat ditemui di sela-sela simulasi pelaksanaan Tournament of Flowers di Stadion Walian pada 1 Agustus.

Meski demikian, Wali Kota mengaku ada satu daerah yang bakal membawa bunga mereka sendiri. “Dari Manokwari sudah mengonfirmasi membawa bunga sendiri, mungkin jenis tertentu dari sana,” ujarnya.

Bunga asal Tomohon untuk Festival Internasional Bunga Tomohon 2017.

Menurut Vonny Pontoh, kesepakatan kerja sama dengan dekorator khusus untuk bunga jenis krisan yang ditanam kelompok tani. “Tetapi ada jenis lain seperti aster, gladiol, anturium, dan lain-lain tidak masuk. Karena itu bisa langsung dibeli dekorator ke petani lain, atau florist,” katanya.

Vonny tidak menampik kemungkinan bunga dari luar daerah masuk kota Tomohon. Selain karena ketersediaan jenis atau warna tertentu, juga dipengaruhi harga. “Karena kalau petani itu minta harga lebih dari harga pasar, nanti pelaku usaha lain minta dari luar daerah.”

Maka, katanya, memang mereka mengatur harga supaya sama yang berlaku di pasaran. Kalau harga di petani di atas harga pasar, tentu pengusaha akan membeli dari luar daerah.

Penggunaan bunga dari luar daerah, Vonny memperkirakan, bisa saja melalui florist. Mungkin ada permintaan untuk jenis tertentu yang tidak ada di Tomohon. “Misalnya, ada permintaan bunga warna biru, karena tidak ada di Tomohon, mereka pasok dari luar. Mereka bebas memasukkan bunga. Tapi memang untuk kelompok tani, tidak ada dari luar daerah,” ujarnya. (ase)