Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 08:11 WIB
  • Ini 'Musuh' RI dalam Industri Pariwisata

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Isra Berlian
Ini 'Musuh' RI dalam Industri Pariwisata
Photo :
Menteri Pariwisata RI Arief Yahya

VIVA.co.id – Menteri Pariwisata, Arief Yahya menyebut negara Thailand masih menjadi kompetitor utama Indonesia, dalam hal meningkatkan jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia.

"Kalau Indonesia itu punya Bali, kalau ASEAN punya Thailand, begitulah orang melihat Thailand. Jadi, ‘musuh’ terberat secara profesional adalah Thailand. Di Thailand sendiri, jumlah wisatawan mancanegaranya sudah mencapai 30 juta dengan devisa US$42 miliar, itu luar biasa," ujar Menpar, saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa 8 Agustus 2017.
 
Seperti diketahui, Thailand merupakan destinasi paling populer di ASEAN. Tercatat, ada 32,5 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Thailand pada 2016.
 
Sementara itu, jumlah wisatawan asing ke Indonesia masih sangat jauh di bawah Thailand, yang hanya mencapai 11,5 juta pada 2016. Indonesia menarget 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara datang ke Indonesia pada 2019. Sedangkan Thailand, mematok target 60 juta kunjungan wisatawan mancanegara hingga 2030.
 
Terkait hal itu, pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pariwisata, mengutarakan beberapa hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia, salah satunya melalui deregulasi.
 
"Ada beberapa level, yang strategis itu melakukan deregulasi, sedangkan yang taktikal itu seperti kita melakukan marketing digital, konektivitas udara itu strategi di level taktis. Tetapi, dampaknya yang besar itu selalu diregulasi dan itulah banyak orang tidak tahu," paparnya.
 
"Tapi kalau kita belajar dengan tekun, Jepang itu menang karena mederegulasi. Vietnam sekarang 24 persen pertumbuhan pariwisatanya, karena melakukan deregulasi. Indonesia rahasianya sama kita enggak akan pernah tumbuh 22 persen, kalau tidak melakukan  deregulasi," ucapnya. (asp)