Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 12 September 2017 | 18:08 WIB
  • Mimbar Sukarno di Gedung Sarekat Islam yang Tak Lagi Utuh

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Mimbar Sukarno di Gedung Sarekat Islam yang Tak Lagi Utuh
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
Gedung Sarekat Islam di Kota Semarang, Jawa Tengah, setelah dipugar.

VIVA.co.id - Gedung Sarekat Islam (SI) di Kota Semarang, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu tempat yang sangat bersejarah. Bangunan yang dulunya bernama Balai Rakyat Indonesia itu menjadi saksi bisu kisah panjang perjuangan kemderdekaan Indonesia.

Salah satu kisah yang menarik diungkap adalah keberadaan mimbar asli gedung yang dibangun pada 1919-1920 itu. Mimbar konon pernah dipakai sang Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, untuk membakar semangat juang pemuda kala itu.

Gedung yang terletak di Jalan Gendong Selatan 1144, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, itu baru resmi ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah pada 22 Desember 2014.

Yunantyo Adi Setyawan, Sekretaris Komunitas Pegiat Sejarah Semarang, membenarkan ihwal mimbar asli di gedung Sarekat Islam. Berdasarkan berbagai sumber yang ia himpun, mimbar itu sering digunakan Bung Karno membakar semangat para pemuda dan tokoh pergerakan lain untuk melawan penjajah pada tahun 1931.

"Di atas mimbar ini pula, Bung Karno membakar semangat para pemuda yang berjuang di jalur pro-kemerdekaan RI kala itu," kata Yunantyo ketika ditemui VIVA.co.id pada Selasa, 12 September 2017.

Mimbar Sukarno di Gedung Sarekat Islam yang Tak Lagi Utuh

Mimbar tua berbahan kayu jati setinggi satu meter dan lebar dua meter itu tampak biasa. Namun, dari sisi ukirannya menunjukkan bahwa benda itu cukup menyimpan sejarah masa lalu. Meski begitu, kondisi fisik mimbar kini tak utuh. Hanya menyisakan bentuk kotak tanpa pilar dan anak tangganya telah hilang.

Perpecahan PNI

Yunantyo menjelaskan, melalui mimbar itu kisah Bung Karno singgah di gedung SI Semarang bermula. Pada tahun 1929 ia sempat ditawan Belanda dan dilepaskan lag pada 1930. Kemudian tahun 1931 melakukan perjalanan dari barat ke timur, singgah ke Gedung SI Semarang. Kedatangannya dalam rangka menghimpun kekuatan-kekuatan pergerakan setelah perpecahan gerakan nasional.

"Selain melakukan pidato, Bung Karno juga sering melakukan rapat konsolidasi bersama dengan Mr Sartono yang saat itu memimpin Partai Indonesia (Partindo). Tentunya konsolidasi terkait perlawanan para pemuda terhadap penjajahan Belanda," ujarnya.

Setelah pemberontakan rakyat melawan kolonial Belanda di Banten pada Desember 1926, gedung Sarekat Islam sempat digembok oleh Komite Perawat Gedung serta ditutup militer Belanda sampai tahun 1929. Bahkan semua pergerakan yang berkaitan dengan Banten, termasuk aktivis-aktivis yang bermarkas di Gedung SI Semarang yang terlibat, ikut ditawan. 

Karena aktivis-aktivis politik ditangkap akibat pemberontakan di Banten, Bung Karno kemudian mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia). Dalam perkembangannya saat Bung Karno ditawan, PNI pecah menjadi PNI Pendidikan kubu Hatta dan Sjahrir serta Partindo kubu Mr Sartono.

"Bung Karno waktu singgah ke Gedung SI itu di era Partindo dipimpin Mr Sartono; Bung Karno gabung dengan Partindo. Waktu itu tidak gabung dengan PNI-nya Hatta-Sjahrir," ujarnya.

Dalam konsolidasi pertama dengan Partindo pada 1931, Bung Karno berpidato soal skema merintis kemerdekaan. Ia juga menyatakan bahwa perang Pasifik-lah yang akan bisa menjadikan Indonesia merdeka dengan merebut kekuasaan.

"Tapi saat itu di tengah acara tiba-tiba kedatangan PID atau badan intelijen Belanda yang menghentikan pertemuan. Sartono kemudian menangani Belanda, menyatakan bahwa rapat sudah selesai," kata Yunantyo.

Mimbar

Keberadaan mimbar orasi Soekarno di Gedung SI pun pernah disebut-sebut dalam buku sejarah. Nadzir wakaf Gedung SI, Syamsuddin Hamidy, menyebut sejarahwan Amen Budiman pernah menggelar pemeran seni di gedung SI pada 1980-an. Pameran itu memuat foto-foto Bung Karno saat berpidato di atas mimbar gedung SI.

"Tapi setelah Amen Budiman meninggal, foto itu tidak diketahui ada di mana. Cerita tentang Bung Karno pidato itu ada juga di testimoni yang ditulis Yayasan Perintis Kemerdekaan Cabang Semarang pada tahun 1980 silam," katanya.

Gedung Sarekat Islam di Kota Semarang, Jawa Tengah, setelah dipugar.

Terlepas dari itu, Yunantyo berharap semua yang ada di gedung SI dapat terus dijaga dan dirawat. Terlebih gedung tua sarat sejarah itu sempat terancam hilang akibat tidak terurus selama puluhan tahun.

"Selain menjadi saksi Bung Karno merundingkan kemerdekaan, gedung ini juga menjadi tempat Tan Malaka mengajar masyarakat pribumi," katanya.

Kini gedung SI Semarang dikelola Yayasan Balai Muslimin, sebuah yayasan yang di dalamnya terdiri unsur NU, Muhammadiyah, dan ormas Sarekat Islam Anwar Tjokroaminoto. Berdasarkan catatan sejarah, bangunan itu telah mengalami pergantian penguasaan dari masa ke masa setelah pemberontakan pada 1926-1927 di Tanah Air.

Berbagai sumber sejarah menyebutkan, sejumlah tokoh yang menggunakan gedung itu adalah Sarekat Islam, Boedi Utomo, Nationaal Indische Partij, Vereeniging Spoor en Tramweg Personeel (VSTP), SI School, Partai Komunis Indonesia, Revolusioner Vaksentral, Sarekat Rakyat, kaum Tionghoa, dan lain-lain.

Tokoh-tokoh pergerakan awal yang menggunakan gedung itu untuk keperluan politik, antara lain Semaun, Darsono, Haji Boesro, HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Alimin, Tan Malaka, Bergsma, Tjioto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan lain-lain. (ren)