Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 14 September 2017 | 14:56 WIB
  • Balapan Sapi ala Minangkabau Mendunia

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Andri Mardiansyah (Padang)
Balapan Sapi ala Minangkabau Mendunia
Photo :
  • VIVA.co.id/Andri Mardiansyah
Pacu jawi alias balapan sapi ala masyarakat Minangkabau di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

VIVA.co.id - Pacu jawi alias balapan sapi ala masyarakat Minangkabau mulai dikenal dunia. Permainan tradisional alek nagari di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang diselenggarakan di area persawahan setiap Sabtu itu menarik perhatian masyarakat mancanegara.

Mulanya para fotografer penasaran dengan balapan sapi itu, kemudian ramai-ramai datang ke Tanah Datar, beberapa tahun lalu. Sejumlah foto hasil bidikan mereka menjuarai lomba foto tingkat lokal, nasional maupun dunia. Satu di antaranya ialah foto pacu jawi karya Wei Seng Chen, fotografer asal Malaysia, yang menjuarai kategori Sports Action Single di World Press Photo Contest tahun 2013.

Tradisi pacu jawi sejatinya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Awalnya menjadi sarana hiburan yang sangat ditunggu masyarakat setiap hendak memasuki musim tanam padi sawah tiba.

Sebelum dihelat di area sawah warga yang sudah ditentukan, sejumlah tradisi lokal lain pun ikut menyemarakkan alek pacu jawi, di antaranya arak-arakan sapi, arak-arakan pembawa dulang atau jamba yang berisi makanan. Semua alek kerap diiringi musik talempong dan gendang tasa.

Kebanjiran turis

Sejumlah tokoh masyarakat Tanah Datar, beberapa tahun lalu, sepakat menggeliatkan lagi pacu jawi. Tak hanya melestarikan nilai budaya, pacu jawi mampu menyedot perhatian dunia. Hampir setiap Sabtu, Tanah Datar kebanjiran wisatawan, terutama yang berasal dari beberapa negara tetangga.

Balapan Sapi ala Minangkabau Mendunia

Pacu jawi sudah menjadi agenda tahunan Kabupaten Tanah Datar. Selain menyedot turis mancanegara, pacu jawi juga mampu meningkatkan taraf perekonomian warga setempat. Setiap ada pacu jawi, banyak warga yang membuka warung nasi dan kopi.

Kini, setiap tahun, pacu jawi diselenggarakan secara bergiliran selama empat minggu berturut-turut di empat kecamatan di Tanah Datar, yaitu Pariangan, Rambatan, Lima Kaum, dan Sungai Tarab. Kota Sawahlunto juga mulai menyelenggarakan pacu jawi untuk menarik minat wisatawan.

Balapan dramatis

Apa sebenarnya daya tarik pacu jawi sehingga mencuri perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia. Pacu jawi jelas berbeda dengan karapan sapi di Madura. Berpacu di lintasan basah sawah dengan dua ekor sapi yang dikendarai seorang joki, menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi sang joki terkena cipratan lumpur sehingga menambah dramatis foto yang dihasilkan.

Balapan Sapi ala Minangkabau Mendunia

Menurut Faumi, Ketua Persatuan Olah Raga Pacu Jawi (Porwi) Tanah Datar, pacu jawi bukan hanya sarana hiburan masyarakat setempat, namun sudah menjadi destinasi wisata budaya unggulan. Ratusan wisatawan datang dan menyaksikan langsung gelaran pacu jawi.

"Berkembangnya pacu jawi saat ini, sangat memberikan dampak baik bagi masyarakat Tanah Datar. Karena selain terlestarikan, pacu jawi juga mampu meningkatkan ekonomi warga. Porwi dalam hal ini akan terus menggelar alek nagari pacu jawi," kata Faumi.

Agar eksistensi pacu jawi terjaga dan tetap menjadi tujuan wisatawan, Porwi terus membenahi setiap penyelenggaraannya. Termasuk mengupayakan sarana umum, seperti toilet bergerak, yang memang dibutuhkan pengunjung.

Faumi juga berharap generasi mendatang mampu melestarikan pacu jawi sebagai alek Nagari Tanah Datar, karena merupakan turun-temurun dari leluhur yang patut dijaga kelangsungannya.

Anda yang tertarik menonton langsung gelaran pacu jawi, hanya dengan puluhan ribu rupiah untuk ongkos travel dari Kota Padang, sudah bisa sampai di Tanah Datar. Padang-Tanah Datar bisa ditempuh melalui jalur darat sekira 2,5 jam. Anda hanya perlu mencari informasi di kecamatan mana pacu jawi akan digelar selanjutnya. (mus)