Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 15 September 2017 | 15:17 WIB
  • Menyusuri Kota Thaif, Desa Para Raja

  • Oleh
    • Hardani Triyoga,
    • Eko Priliawito
Menyusuri Kota Thaif, Desa Para Raja
Photo :
  • VIVA.co.id/Eko Priliawito
Susana memasuki Kota Thaif

VIVA.co.id – Selain mengunjungi Jabal Tsur, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah, umat Muslim  yang sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah, juga sering mengunjungi Kota Thaif. Berada di lembah antara Pegunungan Asir dan Pegunungan Al-Hada, Kota Thaif merupakan daerah yang berhawa sejuk.

Kota Thaif merupakan tempat istimewa umat Islam karena menyimpan sejarah kehidupan dan perjuangan syiar Rasulullah SAW. Berbagai ujian berat dihadapi ketika menyebarkan agama Islam di wilayah ini.

Kota Thaif dapat ditempuh dengan berkendara mobil selama 1 jam 45 menit dari Kota Mekah. Perjalanan menuju Thaif cukup panjang, menanjak dan berkelok.

Selain jalanannya yang lebar dan juga mulus, disediakan juga tempat khusus bagi mereka yang ingin menepi untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan menuju Kota Thaif, disuguhi hamparan perbukitan batu dari atas. Mungkin tak mengherankan bila banyak jemaah merekam indahnya perbukitan Thaif dengan kamera dari ponsel genggamnya.

Meski tak ada pepohonan dan terbilang tandus, tapi udara di daerah ini bersahabat karena terasa sejuk. Sekedar hiburan, sepanjang perjalanan juga terdapat monyet-monyet yang akan menghampiri bila dilempar makanan dari pengendara yang melintas.

Sebelum masuk Thaif, daerah yang akan dijumpai adalah Kota Al Hada. Warna hijau sudah mulai mendominasi kiri kanan jalan. Berderet perkebunan delima, kurma termasuk juga pohon Zaqqum, pohon langka yang namanya tercantum dalam Alquran surat Al-Waqiah ayat 52-56. Terlihat juga pengembala kambing dan sejumlah rumah tradisional yang berdiri di tengah perkebunan.

Bila ingin melihat jalan perbukitan yang dilalui sebelumnya, mungkin bisa mampir ke Hotel Ramada dan naik kereta gantung (cable car) yang akan melintasi sepanjang areal perbukitan batu dari ketinggian. Tapi, dari informasi yang disampaikan akan lebih seru jika memilih malam hari untuk perjalanan. Alasannya, keindahan pesona lampu-lampu yang menghiasi kota besar di sekitar Thaif akan menjadi pemandangan menarik.

Begitu masuk Thaif, udara dingin makin terasa. Karena itu, banyak warga Arab Saudi banyak yang berwisata ke kota ini saat musim panas. Tak sedikit juga keluarga kerajaan Arab Saudi yang membangun tempat peristirahatan di kota yang berjuluk Qaryah Al-Mulk yang berarti 'Desa Para Raja'.

Unta di Kota Thaif

Unta di Kota Thaif. Foto: VIVA.co.id/Eko Priliawito

Selain tampat berziarah, Thaif juga menyajikan kuliner dan pusat perbelanjaan yang ramai. Saat memasuki pintu gerbang Kota Thaif, akan terlihat pasar buah segar beraneka warna dan jenis.

Siapa yang melihat pastilah terpesona. Mulai dari delima, anggur, tin, jeruk, dan tentu kurma muda dapat dimakan langsung di pinggiran bebukitan sambil menikmati senja.

Bila ingin menunggang unta, ada tinggal membayar 10 Real. Unta bisa membawa keliling di wilayah perbukitan yang lebih rendah. Berderet toko parfum khas Thaif dari bunga mawar atau rose parfum tersaji di sepanjang jalan, tinggal memilih menyesuaikan kocek di kantong.

Sejumlah bangunan penting bersejarah yang menjadi saksi Syiar Nabi Muhammad Rusulullah SAW masih terlihat. Seperti Masjid Abdullah bin Abbas, Masjid Kuk atau sikut dan Masjid Addas.

Berderet juga hotel bintang tiga dan hunian mewah di Thaif menginjakan kaki di Taif mengubah persepsi bahwa negara Arab keseluruhannya gersang dan tandus. Kemajuan Kota Thaif ditandai dengan berdirinya Universitas Thaif pada 2004 silam.

Dalam bidang pengobatan, telah banyak berdiri rumah sakit bertaraf internasional. Seperti Rumah Sakit Awam Al Adwani, Rumah Sakit King Abdul Aziz dan sejumlah rumah sakit spesialis lainnya. (ren)