Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 15 September 2017 | 17:51 WIB
  • Menelusuri Jejak Kesultanan Palembang Darussalam

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Aji YK Putra (Palembang)
Menelusuri Jejak Kesultanan Palembang Darussalam
Photo :
  • VIVA.co.id/Aji YK Putra
Pagoda pulau Kemaro di Palembang

VIVA.co.id – Kisah percintaan sepasang kekasih di Pulau Kemaro, antara Siti Fatimah, putri raja di Palembang dan Tan Bunn Ann, yang merupakan anak Raja di China, yang hijrah ke Palembang, menjadi legenda di pulau tersebut. Bahkan, legenda itu pun telah membuat ikon Pulau Kemaro terkenal ke luar negeri.

Namun, belum ada bukti sejarah yang mendukung cerita tersebut. Pulau Kemaro dulunya merupakan benteng pertahanan lapisan pertama Kesultanan Palembang Darussalam yang disebut Tambak Bayo.

"Tidak ada bukti otentik untuk cerita Siti Fatimah. Itu hanya legenda. Disebutkan Fatimah adalah putri raja, tetapi tidak dijelaskan putri raja siapa. Sebenarnya Pulau Kemaro yang disebut masyarakat adalah Benteng Tambak Bayo kesultanan Palembang Darussalam," kata Ali Hanafiah, Sejarahwan Palembang, Jumat 15 September 2017.

Pada masa pemerintahan keraton Palembang Darussalam, Pulau Kemaro menjadi titik masuknya kolonial Belanda ke Palembang. Ketika itu penjajah sangat sulit untuk masuk ke Palembang, karena kuatnya pertahanan di Benteng Tambak Bayo.

Pada tahun 1811, Belanda mengincar Benteng Tambak Bayo untuk ditaklukkan. Tahun 1821, Benteng Tambak Bayo berhasil ditembus Belanda. Sehingga menyerbu pertahanan Palembang Darussalam dan menguasainya. Seluruh pasukan Belanda langsung mendapatkan kenaikan pangkat dua kali lipat sebagai bentuk penghargaan atas jerih payah mereka.

Ali menerangkan, peperangan antara tentara Belanda dan Kesultanan Palembang Darussalam sendiri, telah membumi hanguskan seluruh isi yang ada di dalam Benteng Tambak Bayo. Sehingga, tidak ada sedikit pun bangunan yang tersisa. Oleh karena itu, sejarah perjuangan Keraton Palembang Darussalam ini terlupakan.

"Sejarah ini sebenarnya sangat penting untuk mengetahui kekuatan Keraton Palembang Darussalam mencegah Belanda. Hanya sedikit orang yang tahu sejarah ini," ujarnya.

Setelah tahun 1960-an, Bangunan klenteng dan pagoda di Pulau Kemaro baru didirikan di sana dikarenakan banyak juga dihuni oleh etnis Tionghoa. Pembangunan tersebut juga bertujuan sebagai salah satu lokasi pariwisata di Palembang.

"Dipilihnya pulau sebagai benteng pertahanan, karena di sana tidak pernah terendam air Sungai Musi, ketika air pasang. Sedangkan kawasan lain selalu terendam," ucap Ali.

Hingga sekarang, pada perayaan Cap Gomeh, Pulau Kemaro menjadi wisata populer yang didatangi para turis asing, seperti Malaysia, Singapura dan China. Mereka melakukan sembahyang, serta pemotongan puluhan hewan kambing dan sapi di lokasi Pulau Kemaro sebagai persembahan. (asp)